Begini Perjuangan Ibu-Ibu Menyusui di Gaza untuk Bertahan Hidup
Manajer keperawatan tersebut menekankan bahwa klinik ini berfungsi sebagai “ruang aman” (safe space) dari penderitaan tiada akhir di Gaza. Di luar sana, serangan bom Israel terus mengintai di tengah kesepakatan gencatan senjata, sementara proses rekonstruksi wilayah yang hancur masih terasa jauh.
“Kami mendengarkan pertanyaan dan ketakutan para ibu, serta berusaha menjawab seluruh kekhawatiran mereka,” tutur al-Buhaisi.
Eman menuturkan bahwa sesi rutin ini membantunya menyusui secara teratur dan memahami perawatan diri di tengah perjuangannya mengontrol diabetes. Edukasi ini juga membantunya mengoptimalkan bahan makanan terbatas di Gaza setelah hampir tiga tahun dikepung perang.
Keluarganya, sebagaimana ribuan warga Gaza lainnya, tidak lagi memiliki penghasilan dan tak sanggup membeli bahan pokok. Buah-buahan dan daging mungkin tersedia di pasar, tetapi harganya meroket di luar jangkauan mereka.
“Mereka mengajari saya apa saja yang bisa saya makan dan minum dari bahan seadanya yang tersedia bagi kami,” ucap Eman. “Situasi makanan dan air kami sangat sulit, dan kami masih bergantung pada dapur umum (community kitchen) untuk makan sehari-hari.”
Menyusui di Tengah Duka Kehilangan
Hiba al-Masri meratapi penderitaan mendalam sepanjang agresi berlangsung. Ibu empat anak berusia 23 tahun ini kehilangan putri ketiganya pada bulan-bulan awal konflik. Bayi tersebut meninggal saat baru berumur 20 hari di tengah perjuangan keras keluarga bertahan hidup di pengungsian Gaza utara.
Keluarga ini masih berstatus pengungsi dan kini berpindah ke Gaza tengah. Hiba berjuang merawat putranya yang berusia tiga bulan, Yusuf, di dalam satu tenda pengungsian sempit yang harus dibagi bersama keluarga besar suaminya—total berisi 15 jiwa.
Hiba, yang juga mengikuti program di Pojok Ibu dan Anak, terus berikhtiar memberikan ASI kepada Yusuf. Namun, kondisi tenda yang sesak merampas privasinya, ditambah beban berat mengasuh anak-anaknya yang lain.
Ia pun harus berjuang melawan krisis nutrisi usai melewati kehamilan yang penuh penderitaan.
“Terkadang tubuh merasa sangat lelah dan ada begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi Anda tetap harus merawat sang bayi,” keluhnya.
Meskipun diterpa rintangan berat, Hiba melihat adanya perbaikan pada kesehatan bayinya. Ia mengakui bahwa pendampingan klinik telah meningkatkan keterampilannya dalam merawat Yusuf.
“Menyusui secara langsung jauh lebih baik sejuta kali lipat dibandingkan susu formula,” tegas Hiba.






