#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Begini Perjuangan Ibu-Ibu Menyusui di Gaza untuk Bertahan Hidup

Kelaparan, Trauma, dan Kesalahpahaman

Ujian yang dialami Eman dan Hiba merupakan cerminan dari tragedi kemanusiaan yang lebih luas akibat kejahatan perang Israel, pangkas Iman Abu Ouda, seorang spesialis menyusui di Pojok Ibu dan Anak.

Abu Ouda menjelaskan bahwa kaum perempuan sering kali kesulitan mencapai pusat kesehatan karena fasilitas transportasi yang amat langka dan mahal.

Ibu-ibu yang berhasil sampai ke klinik umumnya tinggal di tenda-tenda kumuh yang sesak dan tidak mampu melindungi mereka dari sengatan panas maupun dingin ekstrem.

Abu Ouda menambahkan bahwa sebagian ibu termakan mitos keliru bahwa kondisi krisis mematikan produksi ASI mereka.

“Beberapa perempuan berkata kepada kami, ‘Karena kondisi psikologis saya terganggu dan saya tidak cukup makan, saya tidak bisa menyusui,'” jelas Abu Ouda.

Tim medis terus mengedukasi bahwa tubuh perempuan secara biologis tetap mampu memproduksi ASI meskipun dalam kondisi tertekan, sembari tetap memvalidasi krisis pangan parah yang mereka hadapi.

“Situasi pangan masih sangat buruk,” kata Abu Ouda. “Beberapa ibu terpaksa beralih ke susu formula, padahal pasokannya sangat langka, amat mahal, dan sulit dicari.”

Pasokan daging, ikan, dan buah-buahan terlampau mahal untuk dijangkau oleh kantong pengungsi. Sebagai gantinya, pihak klinik menyarankan alternatif bahan makanan yang lebih terjangkau seperti miju-miju (lentils), kacang-kacangan, serta membagikan suplemen nutrisi yang tersedia.

Pendampingan ini tidak hanya berfokus pada teknik menyusui. Banyak ibu yang datang dalam keadaan hancur secara mental akibat kehilangan anggota keluarga atau rumah mereka yang rata dengan tanah.

Abu Ouda menyatakan bahwa pusat kesehatan bekerja sama dengan tim kesehatan mental untuk mendampingi para ibu yang terpuruk secara psikologis.

Namun bagi Eman, bantuan di klinik tidak serta-merta menghapus penderitaan riil yang menantinya di luar.

Di dalam tendanya, air bersih harus diangkut dari jarak jauh, lantai pasir mengotori area tidur, serta ancaman serangga dan hewan pengerat selalu mengintai setiap saat.

“Hal terpenting bagi anak-anak adalah kebersihan dan ruang yang higienis, tetapi kami sama sekali tidak memilikinya di dalam tenda,” keluhnya.

Ia kerap terjaga di samping bayinya, Ward, saat tertidur karena cemas akan ancaman gigitan serangga atau tikus yang berkeliaran.

Kendati berada di bawah himpitan krisis yang mendalam, keteguhan hatinya untuk membesarkan sang buah hati tidak pernah surut—termasuk melalui pemberian ASI.

“Kami para ibu mungkin sanggup menahan penderitaan ini, tetapi apa salah anak-anak kami?” pungkas Eman. []

Sumber: Al Jazeera

Laman sebelumnya 1 2 3
Back to top button