Bencana dan Wajah Negara
Di sinilah kepemimpinan diuji dalam makna yang sesungguhnya. Bencana menuntut negara bekerja melampaui rutinitas birokrasi.
Dalam keadaan normal, prosedur memang penting. Namun, dalam keadaan darurat, prosedur tidak boleh lebih lambat daripada penderitaan rakyat.
Jembatan darurat harus dibangun dengan rasa mendesak yang sama seperti kecemasan orang tua yang melihat anaknya mempertaruhkan keselamatan demi sekolah. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar birokrasi yang bekerja, melainkan birokrasi yang bergerak.
Namun, kecepatan saja tidak cukup. Negara juga membutuhkan empati.
Kepemimpinan pada masa bencana bukan hanya persoalan anggaran dan koordinasi, melainkan juga kemampuan memahami perasaan masyarakat. Di tengah warga yang masih membersihkan lumpur, mencari sumber penghidupan, dan memulihkan kehidupan yang porak-poranda, setiap tindakan pemimpin dibaca sebagai simbol keberpihakan.
Ada saat ketika kesederhanaan lebih bermakna daripada kemewahan. Ada saat ketika menahan diri dari selebrasi merupakan bentuk penghormatan kepada mereka yang sedang berduka.
Bukan karena masyarakat membenci kebahagiaan para pemimpinnya, melainkan karena setiap masa memiliki etikanya sendiri. Masa bencana menuntut solidaritas.
Francis Fukuyama melalui Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity (1995) mengingatkan bahwa modal terbesar sebuah bangsa adalah kepercayaan. Modal terbesar itu bukan sekadar kekayaan alam ataupun besarnya anggaran negara.
Kepercayaan itulah yang membuat masyarakat bersedia bekerja sama, mematuhi kebijakan, dan bangkit bersama setelah krisis. Sebaliknya, kepercayaan mulai terkikis ketika warga berulang kali merasa bahwa mereka harus membangun jembatan dan mencari jalan keluar sendiri sebelum negara benar-benar hadir.
Aceh telah berkali-kali membuktikan bahwa masyarakatnya memiliki daya lenting yang luar biasa. Dari tsunami 2004 hingga berbagai bencana sesudahnya, rakyat Aceh selalu memperlihatkan solidaritas yang mengagumkan.
Tetangga membantu tetangga dan relawan datang tanpa diminta. Guru tetap mengajar meski akses menuju sekolah nyaris mustahil dilalui. Gotong royong seperti itulah yang membuat Aceh terus bertahan.
Namun, ketangguhan masyarakat tidak boleh dijadikan alasan bagi negara untuk bekerja seadanya. Solidaritas warga adalah kekuatan bangsa, tetapi ia tidak boleh berubah menjadi pengganti tanggung jawab negara.
Sebab negara dibentuk bukan untuk hadir ketika keadaan mudah, melainkan ketika rakyat sedang menghadapi keadaan paling sulit.






