Bencana dan Wajah Negara
Setiap bencana selalu meninggalkan dua warisan. Warisan pertama adalah kerusakan fisik yang lambat laun dapat dipulihkan.
Jalan dapat diperbaiki, jembatan dapat dibangun kembali, dan rumah yang roboh dapat didirikan ulang. Akan tetapi, warisan kedua jauh lebih mahal nilainya, yakni ingatan kolektif masyarakat tentang siapa yang hadir ketika mereka kehilangan rasa aman.
Jika pada saat paling sulit rakyat merasa lebih cepat diselamatkan oleh gotong royong daripada oleh institusi negara, maka yang retak bukan hanya jembatan fisik. Jika mereka lebih dahulu menemukan harapan dari solidaritas warga daripada dari kehadiran negara, maka yang mulai retak adalah kepercayaan antara negara dan rakyatnya.
Dan bagi sebuah bangsa, tidak ada bencana yang lebih mahal daripada hilangnya kepercayaan itu.[]






