Cita-Cita Tertinggi Seorang Muslim
Kedudukan muttaqin begitu vital hingga Al-Qur’an menempatkannya pada bagian awal Surah Al-Baqarah:
الم ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَٰئِكَ عَلَىٰ هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Alif Lam Mim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum engkau, serta mereka yakin akan adanya akhirat. Mereka itulah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah [2]: 1–5)
Keteladanan Rasulullah saw. Sebagai Pemimpin Utama
Menjadi pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa menuntut tanggung jawab moral yang besar. Seseorang harus menjadi teladan dalam memimpin keluarga, rekan terdekat, masyarakat, hingga dalam membangun bangsa.
Nabi Muhammad saw. adalah pemimpin dunia terbaik sepanjang sejarah. Keteladanan beliau telah terpancar sejak usia muda, seperti saat menyelesaikan perselisihan penempatan batu Hajar Aswad secara adil dan bijaksana menggunakan bentangan kain.
Rasulullah saw. mengangkat derajat wanita, mengharamkan budaya buruk seperti perzinaan dan minuman keras, menganjurkan penutupan aurat, serta mempersaudarakan suku-suku yang bertikai. Di Madinah, beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sehingga terbangun solidaritas tanpa rasa saling merendahkan latar belakang suku.
Untuk menjadi pemimpin teladan di era modern, umat Islam hendaknya senantiasa meneladani jejak perjuangan Rasulullah saw.:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kalanganmu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan terhadap orang-orang mukmin dia sangat penyantun dan penyayang.” (QS. At-Taubah [9]: 128)
Wallahu ‘azizun hakim. Wallahu ‘alimun hakim.[]






