RESONANSI

Dialektika Hegel dan Roda Kehidupan dalam Islam

Sering kita mendengar ungkapan bahwa sejatinya kehidupan seperti roda yang berputar. Ada saatnya hidup kita di bawah, namun pada saat yang sama kita berada di atas. Semua berjalan silih berganti, sekeras apapun kamu berusaha mempertahankan posisi kehidupanmu agar selalu di atas, pasti ada saatnya roda kehidupan berputar juga.

Ungkapan ini ternyata bukan sesuatu yang baru melainkan sudah dijelaskan dalam al-Quran, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)” (Qs. Ali-Imran: 140).

Namun, masalahnya banyak orang yang justru terlena dan terbuai pada posisi kehidupannya. Saat di atas mereka sombong, seakan-akan hidup selalu mulus. Di sisi lain, mereka terlampau putus asa, seakan-akan kesulitan hidup tidak akan pergi dalam kehidupan kita.

Dalam pandangan filsafat Barat, konsep tesis, anti-tesis, dan sintesis selalu dikaitkan dengan pemikir Jerman bernama Georg Wilhelm Freidrich Hegel. Hegel mengatakan, realitas ini tidak absolut atau bahwa tidak ada satu kebenaran yang absolut karena berlaku hukum dialektika.

Dialektika dapat dipahami sebagai “the theory of the union of opposites” (persatuan teori tentang hal-hal yang bertentangan). Selain itu, dialektika menurut Hegel merupakan dua hal yang dipertentangkan lalu didamaikan dengan tiga unsur konsep dialektika, yakni: 1). Tesis (pengiyaan), 2). Anti-tesis (pengingkaran), 3). Sintesis (kesatuan kontradiksi).

Secara sederhana, dialektika ini berarti suatu gagasan awal (tesis) akan menimbulkan gagasan tandingan (anti-tesis), dan dari pergulatan keduannya lahir pemahaman baru sebagai (sintesis).

Dialektika Tesis, Anti-Tesis, dan Sintesis dalam Roda Kehidupan

Meskipun istilah tesis, anti-tesis, dan sintesis tidak ditemukan secara eksplisit muncul dalam ajaran Islam, namun semangat dialektis atau jalan tengah yang menyatukan pandangan berlawanan untuk mencapai kebahagiaan sejati dapat ditemukan dalam ajaran Islam. Misalnya dalam surah Ali-Imran: 140, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapatkan pelajaran)”.

Pada ayat di atas ada dua hal yang saling bertentangan, di satu sisi hidup manusia terkadang penuh dengan kejayaan atau berada di atas (bahagia, sukses, kaya) dalam kacamata dialektika Hegel, kondisi ini masuk pada tesis.

Namun, dalam ayat itu terdapat juga kata kehancuran, yang mana di sisi lain manusia terkadang hidup pada posisi di bawah (susah dan gagal). Kondisi ini masuk pada ranah anti-tesis. Sekaligus mengajarkan bahwa hidup seperti roda yang berputar, nasib dan keadaan manusia juga mengalami pasang surut.

Bersyukur dan Bersabar: Melampaui Kesombongan dan Putus Asa

Masalah yang sering terjadi dalam kehidupan manusia adalah kelupaan akan hidup yang sedang dijalankannya terutama berkaitan dengan roda kehidupan. Saat posisi hidup manusia di atas, terkadang sikap kita menjadi merasa sombong dan merendahkan orang lain. Manusia benar-benar lupa bahwa sikap sombong tersebut justru merupakan awal dari sebuah kehancuran.

Sebaliknya, ketika hidup seseorang sedang di bawah, kita merasa sedih, kecewa dan dunia terasa gelap, sehingga selalu putus asa dan berburuk sangka terhadap berbagai kondisi yang ada.

Padahal di balik setiap kesulitan ada kemudahan. Sebagaimana firman Allah SWT, “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahaan.” (Al-Insyirah: 5-6).

1 2Laman berikutnya
Back to top button