QUR'AN-HADITS

Dua Sisi yang Berbeda

Qatadah juga menjelaskan bahwa sebelum umat Nabi Muhammad SAW, terdapat kelompok dari umat Nabi Musa AS yang mendapat petunjuk dan berlaku adil, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-A’raf ayat 159.

Demikian pula Rasulullah SAW mengabarkan bahwa akan selalu ada sekelompok dari umatnya yang tetap membela kebenaran hingga turunnya Nabi Isa AS.

Ayat ini memiliki hubungan erat dengan ayat sebelumnya. Jika pada ayat 179 Allah SWT menjelaskan tentang penghuni neraka dari kalangan jin dan manusia, maka pada ayat 181 Allah menegaskan bahwa di antara manusia terdapat umat yang menjadi teladan, senantiasa menegakkan kebenaran dan berlaku adil. Mereka itulah yang akan menjadi penghuni surga.

Berbeda dengan golongan tersebut, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur menuju kebinasaan dari arah yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf: 182).

Menurut Imam As-Suyuthi, ayat ini mula-mula ditujukan kepada kaum Quraisy yang mendustakan Al-Qur’an. Sedangkan makna sanastadrijuhum adalah bahwa mereka ditarik sedikit demi sedikit menuju kehancuran tanpa mereka sadari.

Imam Az-Zamakhsyari menjelaskan bahwa istidraj adalah proses penurunan secara bertahap. Allah melimpahkan nikmat kepada mereka, sementara mereka semakin tenggelam dalam kemaksiatan. Setiap kali memperoleh nikmat, mereka justru semakin sombong dan semakin jauh dari Allah. Mereka mengira bahwa limpahan kenikmatan itu merupakan tanda kecintaan Allah kepada mereka, padahal sesungguhnya hal itu merupakan bentuk penelantaran dan kehinaan. Na’udzu billahi min dzalik.

Ketika mereka telah melupakan nasihat dan tidak lagi peduli terhadap kritik, Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka. Hingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44-45).

Dalam perspektif ketuhanan, ketaatan seluruh manusia tidak akan menambah kerajaan Allah SWT dan kemaksiatan seluruh manusia tidak akan mengurangi kekuasaan-Nya sedikit pun. Surga dan neraka semuanya adalah milik Allah SWT. Yang memperoleh keuntungan adalah manusia yang masuk surga, sedangkan yang merugi adalah manusia yang masuk neraka.

Hal itu ditegaskan dalam hadis qudsi yang diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari:

“Wahai hamba-Ku, seandainya manusia dan jin dari awal hingga akhir semuanya menjadi orang yang paling bertakwa, hal itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikit pun. Dan seandainya semuanya menjadi orang yang paling durhaka, hal itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku sedikit pun.”

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
BACA JUGA
Close
Back to top button