Generasi Muda India Patahkan Otoritarianisme Modi
Di Jantar Mantar, satire dan perlawanan menembus aura kekebalan sang perdana menteri.
Hanya dalam hitungan minggu, generasi ini mengubah sosok otoritas negara yang mengesankan menjadi objek tertawaan kolektif. Kaum muda paling marah dengan arogansi kekuasaan yang sama sekali tidak terkendali.
Pemberontakan ini tidak hanya bermula dari keluhan material, tetapi juga dari rasa penghinaan yang mendalam. Pemicu simbolis terdekat adalah pernyataan yang sangat tidak peka dari Ketua Mahkamah Agung India.
Ia secara terbuka menyamakan kaum muda yang menganggur dengan kecoa (cockroaches). Pernyataan ini muncul setelah bertahun-tahun lembaga peradilan tinggi tampak kurang berfungsi sebagai penjaga konstitusi yang independen dan lebih terlihat sebagai perpanjangan dari kekuasaan eksekutif.
Pernyataan tersebut dipahami sebagai artikulasi dari rasa jijik rezim terhadap kaum mudanya sendiri. Pembentukan Cockroach Janta Party (CJP) merupakan tindakan humor perlawanan yang lahir dari luka yang mendalam.
Skandal dugaan penyimpangan dalam ujian National Eligibility cum Entrance Test (NEET) yang sedang berlangsung memberikan titik fokus institusional yang konkret bagi gerakan ini. Skandal ini menjadi momentum untuk menuntut akuntabilitas bukan hanya untuk satu ujian, melainkan untuk keseluruhan budaya pemerintahan.
Sementara itu, rezim menderita karena keangkuhannya sendiri. Mereka telah meyakinkan diri bahwa masyarakat India dapat dikelola secara menyeluruh.
Mereka sibuk merekayasa hasil pemilihan umum melalui manipulasi daftar pemilih dan mengelola mayoritas parlemen lewat pembelotan partai. Mereka juga sibuk mengkonsolidasikan cengkeramannya atas lembaga-lembaga negara, sehingga gagal menyadari badai yang diam-diam mengumpul di bawah permukaan.
Mereka yang memiliki platform, prestise, dan kekuasaan untuk membentuk wacana publik terlalu asyik merayakan narasi besar tentang kejayaan nasional. Studio-studio televisi memperdebatkan takdir peradaban bangsa dan kedudukannya di mata global.
Pers arus utama menyanyikan puji-pujian untuk “India Baru”. Hampir tidak ada yang menoleh ke arah kaum muda yang menemukan setiap jalan mobilitas mereka terblokir.
Kecemasan mereka dibuat tidak terlihat karena negara dan media sekutunya tidak menganggap mereka layak mendapatkan perhatian demokratis yang serius. Karena kehilangan ruang publik tradisional, kaum muda ini pun membangun ruang mereka sendiri.
Ponsel pintar mereka menjadi alun-alun publik, sementara platform media sosial menjadi majelis politik mereka. Satire kemudian menjelma menjadi kosakata demokratis utama mereka.
Ideologi penguasa telah meyakinkan dirinya sendiri bahwa proyek hegemoni budaya telah selesai. Mereka mengira bahwa begitu mayoritas dimobilisasi seputar politik identitas agama dan kebencian terhadap minoritas, realitas material tidak akan lagi menjadi masalah.
Aspirasi, kecemasan, dan martabat seluruh generasi sama sekali tidak mendapat tempat dalam imajinasi politik ini. Di tengah latar belakang ketidakpedulian institusional inilah Sonam Wangchuk memulai aksi mogok makannya di Jantar Mantar.






