OPINI

Generasi Muda India Patahkan Otoritarianisme Modi

Di Jantar Mantar, satire dan perlawanan menembus aura kekebalan sang perdana menteri.

Berbekal telepon pintar, mereka melancarkan serangan tanpa henti terhadap citra publik perdana menteri. Citra tersebut adalah aset yang paling dijaganya dengan sangat ketat sepanjang kehidupan politiknya.

Untuk pertama kalinya, Modi ditarik ke medan pertempuran di mana ia tidak bisa mendikte aturannya. Ketika perdana menteri mencoba campur tangan langsung di media sosial dengan menyapa pemuda sebagai teman, bantahannya pun datang secara instan dan menghancurkan.

“Kami bukan temanmu.”

Kalimat itu lebih dari sekadar slogan yang cerdas, melainkan menandai keruntuhan psikologis dari hubungan paternalistik yang dikembangkan secara hati-hati. Selama bertahun-tahun, Modi telah berusaha berbicara langsung kepada rakyat.

Ia selalu mengabaikan institusi perantara dan media independen. Namun, para pemuda menolak keintiman yang penuh perhitungan itu hanya dalam satu kalimat telak.

Otoritas sang figur kebapakan larut ke dalam sikap tidak hormat yang memang disediakan oleh orang-orang merdeka untuk pejabat terpilih mereka. Mantra ketakutan itu akhirnya telah dipatahkan.

Serangan terhadap citra publik Modi tampaknya telah mengguncang rezim jauh lebih dalam daripada kemunduran elektoral rutin mana pun. Selama lebih dari satu dekade, otoritasnya bertumpu tidak hanya pada kekuatan koersif negara.

Otoritas itu juga dibangun di atas ilusi kekebalan yang absolut. Modi menciptakan citra seorang pemimpin yang tidak pernah mundur, tidak pernah mengakui kesalahan, dan tidak pernah berkompromi.

Gerakan ini harus dibendung sebelum satire mengeras menjadi memori kolektif yang permanen. Tawa kaum muda juga tidak boleh dibiarkan menjadi bahasa umum bagi republik.

Pengunduran diri Pradhan harus dibaca tepat dalam sudut pandang ini. Hal ini bukanlah pengorbanan seorang menteri, melainkan upaya putus asa untuk membangun tembok pelindung di sekitar perdana menteri itu sendiri.

Pemerintah tidak diragukan lagi akan membingkai pengunduran diri ini sebagai bukti dari ketanggapan dan kepekaan demokratisnya. Namun, kaum muda memahaminya secara berbeda.

Bagi mereka, pengunduran diri tersebut adalah konsesi politik yang diekstraksi dari sebuah otoritas yang telah kehabisan pilihan. Sebelum mencapai titik ini, negara telah menghabiskan seluruh perbendaharaan standar delegitimasinya.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button