Generasi Muda India Patahkan Otoritarianisme Modi
Di Jantar Mantar, satire dan perlawanan menembus aura kekebalan sang perdana menteri.
Respons awal pemerintah adalah senjata standarnya, yaitu kebungkaman yang penuh perhitungan. Saat kesehatan Wangchuk memburuk, penolakan pemerintah untuk sekadar mengakui kehadirannya memicu kemarahan moral yang mendalam.
Kemudian datanglah keputusan fatal untuk memindahkannya secara paksa. Hal itu terbukti menjadi salah perhitungan yang mematikan.
Para pemuda menganggap perlakuan terhadap Wangchuk sebagai penghinaan terhadap hak kewarganegaraan mereka sendiri. Apa yang dilakukan kepadanya bisa dilakukan kepada siapa saja yang berani berdiri melawan.
Penghinaan terhadap Wangchuk menjadi provokasi kolektif bagi mereka. Tanggapannya terjadi seketika, Jantar Mantar langsung dibanjiri oleh ribuan tubuh kaum muda.
Ketika para pemuda berbaris menuju parlemen pada 20 Juli, negara mengandalkan pedoman lamanya. Mereka menggunakan barikade, perintah larangan, dan penindasan melalui kekerasan.
Negara telah mengerahkan metode yang sama terhadap para pengunjuk rasa anti-Citizenship Amendment Act (CAA) dan gerakan petani. Namun kali ini, mekanisme ketakutan internal tersebut gagal beroperasi.
Pukulan yang mereka terima tidak menghancurkan semangat mereka, melainkan justru memperdalam kejernihan moral mereka. Perjuangan kaum muda bukan semata-mata tentang mengamankan perubahan kebijakan atau sekadar menuntut kelonggaran administratif rutin.
Mereka berangkat untuk meruntuhkan arogansi institusional tersebut. Pada tanggal 20 Juli, polisi Delhi menghujani pengunjuk rasa dengan pukulan.
Polisi memukuli warga muda dengan keganasan yang biasanya hanya dikhususkan untuk pasukan musuh. Namun, para demonstran tidak melihat tongkat-tongkat itu sebagai instrumen dari pasukan polisi yang acuh tak acuh.
Mereka mengenalinya sebagai ekspresi langsung dari kehendak politik Narendra Modi. Akan tetapi, rasa takut gagal menjalankan fungsi historisnya.
Banyak pengunjuk rasa kembali ke Jantar Mantar dengan membawa luka-luka mereka layaknya lencana kehormatan. Beberapa orang bahkan kembali tanpa alas kaki.
Luka mereka menjadi simbol kegigihan moral, bukan alasan untuk mundur. Tekad mereka sangat sederhana, yakni mereka akan memaksa Modi untuk mengorbankan salah satu orang kepercayaannya.
Secara krusial, para pengunjuk rasa menolak untuk menyerah pada godaan kekerasan. Senjata mereka tetaplah bahasa, gambar, dan satire.






