OPINI

Generasi Muda India Patahkan Otoritarianisme Modi

Di Jantar Mantar, satire dan perlawanan menembus aura kekebalan sang perdana menteri.

Mereka mengabaikan gerakan, mempertanyakan motifnya, menuduh pemuda sebagai proksi partai oposisi, dan mengerahkan jaringan medianya untuk menuduh adanya plot asing. Ketika rentetan fitnah tersebut gagal, mereka menggunakan paksaan.

Setelah menanggung semua ini, kaum muda tidak memandang keluarnya sang menteri sebagai tindakan kebaikan negara. Mereka melihatnya sebagai pengakuan setengah hati atas sebuah kekalahan yang tidak dapat lagi disamarkan.

Lazimnya, kosakata kemenangan dan kekalahan tidak boleh mendominasi sistem demokrasi konstitusional. Sebuah pemerintah diharapkan untuk mendengarkan warganya, bukan memandang mereka sebagai musuh yang harus dihancurkan.

Perbedaan pendapat bukanlah sebuah pengkhianatan. Namun, ketika suatu negara secara konsisten memperlakukan kritik sebagai permusuhan dan pengunjuk rasa damai sebagai musuh negara, hal itu akan mengubah dialog demokratis menjadi konfrontasi.

Ketika itu terjadi, negara tidak bisa mengeluh jika warga merayakan kemundurannya sebagai kemenangan demokrasi. Signifikansi tertinggi dari gerakan ini terletak pada bentuk moral dan kreatifnya.

Kaum muda menjawab paksaan negara dengan pidato, kecerdasan, seni, dan penguasaan luar biasa atas bentuk-bentuk budaya kontemporer. Para orang tua sering meratapi bahwa generasi yang dibesarkan dengan konten berdurasi pendek tidak memiliki kedalaman dan daya tahan politik.

Aksi di Jantar Mantar telah meruntuhkan asumsi yang merendahkan tersebut. Meme (meme) diangkat menjadi instrumen perlawanan politik yang kuat.

Tawa menyelesaikan apa yang sering kali gagal dilakukan oleh retorika politik yang khusyuk. Humor tersebut menusuk ketakutan, membongkar otoritas palsu, dan menghilangkan penghormatan tidak kritis yang menjadi tempat bergantungnya politik otoriter.

Otoritarianisme tidak hanya membutuhkan kepatuhan, tetapi juga kekaguman. Paham ini akan bertahan selama orang percaya bahwa penguasa tidak tertandingi, melampaui satire, dan tidak bisa dikalahkan.

Para pemuda di Jantar Mantar menolak untuk memberikan status sakral tersebut kepada Narendra Modi. Mereka mengembalikannya ke posisi yang seharusnya ia tempati dalam sebuah republik konstitusional.

Modi diposisikan kembali sebagai pemimpin politik biasa yang akuntabel. Ia tunduk pada pengawasan, kritik, dan satire dari warga negaranya.

Lokasi protes di Jantar Mantar mungkin sekarang sudah kosong. Barikade telah disingkirkan, sementara massa telah kembali ke asrama, kampus, dan rumah mereka masing-masing.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button