OPINI

Inggris Kehilangan Kemampuan Bedakan Anti-Semitisme dan Perbedaan Pendapat

Ratusan ribu orang turun ke jalan menuntut gencatan senjata, penghentian dukungan militer dan politik Inggris terhadap Israel, serta pertanggungjawaban atas apa yang oleh banyak pihak di dunia semakin dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan yang berlangsung secara terang-terangan.

Demonstrasi-demonstrasi itu diikuti oleh orang Yahudi, Muslim, Kristen, ateis, mahasiswa, pensiunan, anggota serikat pekerja, penyintas Holocaust, dan orang-orang yang peduli meski tidak memiliki hubungan pribadi dengan kawasan tersebut. Namun sebagian besar kalangan politik dan media Inggris tetap menggambarkan aksi-aksi itu sebagai sesuatu yang mengancam, mencurigakan secara moral, dan secara inheren anti-Semitik.

Pesan tersiratnya sulit diabaikan: pidato dan protes pro-Palestina diperlakukan sebagai sesuatu yang berbahaya terlepas dari isi atau konteksnya, sehingga harus dibatasi, dikendalikan, atau dibungkam.

Tentu saja ada perdebatan yang sah mengenai ketertiban umum, kepolisian, dan ketegangan antar komunitas. Komunitas Yahudi berhak merasa aman dan terlindungi, terutama ketika insiden anti-Semitisme meningkat. Tidak ada masyarakat beradab yang boleh mentoleransi ancaman terhadap orang Yahudi, sebagaimana juga tidak boleh mentoleransi kebencian anti-Muslim atau rasisme terhadap komunitas mana pun.

Namun ada perbedaan mendasar antara anti-Semitisme dan rasa tidak nyaman. Ada perbedaan antara kebencian dan perbedaan pendapat politik. Dan ada perbedaan antara mengancam suatu komunitas dan memprotes negara yang dituduh oleh organisasi internasional serta para ahli hukum melakukan kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida.

Perbedaan itu kini semakin kabur dalam wacana publik Inggris.

Yang mungkin paling berbahaya, penggambaran terus-menerus terhadap demonstrasi pro-Palestina sebagai sesuatu yang secara inheren anti-Semitik justru berisiko memperkuat pencampuradukan yang katanya ingin ditolak para pemimpin politik.

Menganggap protes terhadap aksi militer Israel otomatis sebagai permusuhan terhadap orang Yahudi berarti menyiratkan bahwa identitas Yahudi tidak dapat dipisahkan dari tindakan negara Israel. Itu tidak adil dan juga tidak akurat.

Banyak orang Yahudi di Inggris dan seluruh dunia secara terbuka menentang perang Israel di Gaza. Banyak yang berbaris bersama warga Palestina. Banyak yang merasa ngeri melihat skala kehancuran dan penderitaan warga sipil. Mereka memahami sesuatu yang tampaknya semakin sulit dipahami sebagian kalangan politik dan media Inggris: mengkritik sebuah negara tidak sama dengan membenci suatu bangsa.

Inggris sebenarnya memahami perbedaan ini dengan sangat baik dalam konteks lain. Kritik terhadap Rusia tidak dianggap sebagai kebencian terhadap orang Rusia. Penolakan terhadap perang-perang United States tidak otomatis dianggap sebagai permusuhan terhadap rakyat Amerika. Protes terhadap pemerintah China juga tidak dianggap sebagai rasisme anti-Tiongkok.

Hanya ketika menyangkut Israel, perbedaan ini terus runtuh.

Keruntuhan itu membawa konsekuensi.

Jika masyarakat terus diberi tahu bahwa protes terhadap tindakan Israel secara inheren anti-Semitik, sebagian orang pada akhirnya akan mulai mengaitkan orang Yahudi secara kolektif dengan tindakan-tindakan tersebut. Alih-alih melindungi komunitas Yahudi, hal ini justru berisiko memperdalam ketegangan dan kebingungan pada saat ketika kejelasan sangat dibutuhkan.

Karena itu para pemimpin politik, otoritas kepolisian, dan institusi media memiliki tanggung jawab khusus untuk membuat pembedaan yang hati-hati, bukan menghapusnya.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button