Inggris Kehilangan Kemampuan Bedakan Anti-Semitisme dan Perbedaan Pendapat
Oleh: Ahmed Najar, Analis politik Palestina dan penulis drama.
Para pengunjuk rasa berbaris di sepanjang Whitehall dalam aksi untuk Palestina pada 31 Januari 2026 di London, United Kingdom.
Komentar terbaru Sir Mark Rowley bahwa beberapa demonstrasi pro-Palestina di London mengirimkan pesan “yang terasa seperti anti-Semitisme” merupakan tanda terbaru dari tren berbahaya dalam kehidupan publik Inggris: pencampuradukan antara anti-Semitisme dan kritik terhadap negara Israel.
Komisaris Metropolitan Police itu menyatakan bahwa beberapa penyelenggara aksi sengaja mengarahkan pawai melewati sinagoge dengan cara yang mengintimidasi warga Yahudi Inggris. Segala bentuk intimidasi nyata terhadap komunitas Yahudi tentu harus diperlakukan dengan serius. Anti-Semitisme itu nyata, berbahaya, dan meningkat di Inggris maupun di berbagai bagian Eropa. Hal itu harus dilawan secara tegas di mana pun muncul.
Namun Inggris sedang memasuki wilayah yang mengkhawatirkan ketika protes terhadap penghancuran Gaza, penolakan terhadap kekerasan negara Israel, atau ekspresi duka Palestina diperlakukan sebagai tindakan politik yang secara inheren mencurigakan, bahkan anti-Yahudi.
Persoalannya kini bukan lagi sekadar bagaimana Inggris memerangi anti-Semitisme. Pertanyaannya adalah apakah negara itu masih mampu membedakan antara kebencian terhadap orang Yahudi dan penolakan terhadap kebijakan pemerintah Israel.
Perbedaan itu sangat penting, bukan hanya bagi rakyat Palestina tetapi juga bagi komunitas Yahudi sendiri.
Bagi warga Palestina, situasi ini terasa sangat familiar dan menyakitkan. Banyak dari mereka tumbuh dengan diberi tahu bahwa pengusiran yang mereka alami memang tragis tetapi diperlukan; bahwa penghancuran desa-desa mereka, kehilangan rumah mereka, dan perubahan nasib mereka menjadi pengungsi dibenarkan demi kebutuhan pihak lain akan keamanan dan kenegaraan.
Generasi demi generasi Palestina dibesarkan dalam logika semacam itu. Tragedi mereka hanya diakui sejauh tetap dianggap lebih kecil dibanding trauma sejarah pihak lain. Dalam banyak imajinasi Barat, penderitaan Palestina ditempatkan dalam kategori moral yang berbeda: cukup terlihat untuk dibahas, tetapi jarang cukup penting untuk mengganggu kenyamanan politik.
Kini, ketika Gaza terus dihancurkan di depan mata dunia, warga Palestina di Inggris dan seluruh Barat mendapati bahwa bahkan berbicara tentang duka, kemarahan, dan kehilangan mereka semakin diperlakukan sebagai sesuatu yang mengganggu dan harus dikendalikan.
Selama lebih dari dua setengah tahun, dunia menyaksikan pemandangan dari Gaza yang oleh banyak ahli hukum, organisasi hak asasi manusia, dan pakar genosida digambarkan dengan istilah-istilah yang dulu hanya digunakan dalam buku sejarah: pembersihan etnis, hukuman kolektif, pemusnahan, dan genosida.
Lingkungan permukiman lenyap. Keluarga-keluarga musnah. Rumah sakit dibom. Jurnalis dibunuh. Warga sipil dibiarkan kelaparan dalam pengepungan. Anak-anak ditarik tak bernyawa dari reruntuhan dalam jumlah yang begitu besar hingga skala tragedinya sulit dipahami.
Namun di Inggris, sebagian besar percakapan politik dan media justru lebih berfokus pada ancaman yang diduga ditimbulkan oleh mereka yang memprotes kehancuran itu.






