Jejak M Natsir yang Menghidupkan Raker DDII Kota Bogor

Mendidik Sebelum Memimpin
Di saat yang sama, Natsir tidak hanya sibuk menulis. Antara 1932 hingga 1942 ia mengelola lembaga pendidikan guru agama Islam bernama Pendidikan Islam (Pendis) di Bandung.
Perhatiannya terhadap pendidikan membuat Bung Hatta kemudian memintanya mendampingi pengelolaan Sekolah Tinggi Islam (STI) di Jakarta. Ketika Agresi Militer Belanda II pecah pada 1948, kampus tersebut hijrah ke Yogyakarta dan kelak berkembang menjadi Universitas Islam Indonesia (UII).
Hingga hari ini, nama Mohammad Natsir diabadikan sebagai salah satu gedung di kampus UII sebagai penghormatan atas jasa intelektualnya.
Mosi Integral yang Menyatukan Indonesia
Perjalanan politik Natsir mencapai puncaknya setelah Indonesia merdeka. Ia menjadi salah seorang pendiri Partai Masyumi pada 1945, kemudian dipercaya menjabat Menteri Penerangan dalam Kabinet Sjahrir dan Kabinet Hatta.
Namun momen paling bersejarah terjadi pada 3 April 1950. Di parlemen Republik Indonesia Serikat, Natsir menyampaikan pidato yang kemudian dikenal sebagai Mosi Integral, sebuah gagasan yang mengakhiri bentuk negara federal dan mengembalikan Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Keberhasilan mosi itu mengantarkannya menjadi Perdana Menteri merangkap Menteri Pertahanan pada 1950–1951.
Anto menilai Mosi Integral bukan sekadar manuver politik, melainkan bukti bahwa Natsir memilih persatuan nasional di atas kepentingan golongan.
Difitnah Memberontak, Dipenjara tanpa Pengadilan
Bagian paling dramatis dalam perjalanan hidup Natsir muncul pada akhir 1950-an. Ketika pergolakan PRRI terjadi di Sumatera Barat, Natsir pulang ke kampung halamannya bukan untuk memecah Indonesia, melainkan berusaha meredam konflik akibat ketegangan antara daerah dan pemerintah pusat yang dinilai terlalu sentralistik.
Namun sejarah mencatat ia justru dituduh terlibat pemberontakan PRRI. “Gerakan ini adalah kritik terhadap pemerintah pusat, bukan upaya memisahkan diri dari Indonesia,” jelas Anto.
Bersama tokoh-tokoh Masyumi dan PSI, termasuk Soemitro Djojohadikusumo, ayah Presiden Prabowo Subianto, Natsir akhirnya dipenjara tanpa proses pengadilan sejak 1962 hingga 1966.
Ironisnya, menurut Anto, masa penahanan itu justru menjadi blessing in disguise. Ketika tragedi G30S-PKI meletus, para tokoh inti Masyumi berada di balik penjara sehingga terhindar dari berbagai fitnah keterlibatan. Di penjara pula Buya Hamka menyelesaikan karya monumentalnya, Tafsir Al-Azhar.






