Jejak M Natsir yang Menghidupkan Raker DDII Kota Bogor

Dari Jalur Politik Menuju Jalur Dakwah
Setelah dibebaskan pada 26 Juli 1966, Natsir tidak kembali membangun partai politik. Pada 26 Februari 1967, di Masjid Al-Munawwarah, Kampung Bali, Jakarta Pusat, ia bersama sejumlah tokoh bangsa mendeklarasikan berdirinya Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.
Di hadapan para hadirin, ia mengucapkan kalimat yang hingga kini menjadi ruh gerakan DDII: “Dulu kita berdakwah melalui jalur politik, sekarang kita berpolitik melalui jalur dakwah.”
Kalimat itu, menurut Anto, bukan ajakan meninggalkan kehidupan berbangsa, melainkan penegasan bahwa perubahan masyarakat dimulai dari pembinaan akidah, ilmu, dan akhlak.
Ketika Natsir Mengirim Sarung untuk Tapol PKI
Di antara kisah yang paling mengundang perhatian peserta raker adalah peristiwa tahun 1969.
Saat itu Natsir meminta pengusaha otomotif Hasjim Ning mengirim 1.000 kain sarung kepada tahanan politik PKI di berbagai penjara Indonesia.
Bagi Anto, tindakan tersebut menunjukkan karakter Natsir yang menempatkan kemanusiaan di atas dendam politik. “Beliau berbeda pandangan, tetapi tidak kehilangan rasa kemanusiaannya,” ujarnya.
Dai Indonesia yang Mendunia
Selepas Orde Baru berdiri, ruang gerak politik Natsir memang menyempit. Namun justru pada fase itulah dakwahnya melampaui batas negara.
Selama lebih dari dua dekade ia menjadi Wakil Presiden Muktamar Islam Sedunia di Karachi, anggota Dewan Eksekutif Rabithah Al-Alam Al-Islami di Makkah, berpidato tentang Palestina pada Kongres pertama Organisasi Konferensi Islam, ikut mendirikan World Assembly of Muslim Youth (WAMY), Dewan Masjid se-Dunia, membantu penyelesaian konflik Muslim Moro di Filipina Selatan, mendorong lahirnya LIPIA Jakarta, hingga turut mendirikan Oxford Centre for Islamic Studies di Inggris.
Ketika Muslim Bosnia dilanda perang pada awal 1990-an, Natsir juga menggalang bantuan dari Indonesia.
Saat seorang pengurus DDII menyampaikan bahwa dana yang terkumpul tidak terlalu besar, Natsir menjawab dengan kalimat yang kemudian dikenang banyak muridnya:
“Ini bukan soal jumlah, tetapi kita ingin memberi tahu masyarakat Bosnia bahwa ada saudara Muslim mereka di Indonesia yang peduli dan memikirkan nasib mereka.”






