DAERAH

Jejak M Natsir yang Menghidupkan Raker DDII Kota Bogor

Warisan yang Tak Pernah Selesai

Kepeduliannya terhadap dunia Islam membuat Natsir menerima berbagai penghargaan internasional, mulai dari penghargaan pemerintah Aljazair, Bintang Nichan Istikhar Tunisia, gelar Prince D’Islam, hingga King Faisal International Prize kategori Khidmatul Islam pada 1980 bersama ulama besar India, Syaikh Abul Hasan An-Nadwi.

Ia juga memperoleh empat gelar Doktor Honoris Causa dari berbagai universitas di Lebanon dan Malaysia, meski pada saat itu dirinya masih dicekal pemerintah Orde Baru akibat keterlibatannya dalam Petisi 50.

Mohammad Natsir wafat di Jakarta pada 6 Februari 1993 setelah menjalani perawatan sekitar tiga bulan di RSCM. Ia meninggalkan sedikitnya 45 buku dan ratusan artikel ilmiah, lalu dimakamkan secara sederhana di TPU Karet Bivak.

Penghormatan kepada dirinya terus mengalir setelah wafat: Bintang Republik Indonesia Adipradana, penghargaan tokoh manajemen masjid, Bintang Keteladanan Akhlak Mulia, hingga gelar Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 041/TK/2008 pada Hari Pahlawan, 10 November 2008.

Menghidupkan Spirit Natsir di Era Kini

Di penghujung pemaparannya, Anto Apriyanto mengajak seluruh pengurus DDII Kota Bogor menjadikan rapat kerja bukan sekadar forum menyusun kegiatan, melainkan momentum mewarisi karakter pendirinya: kuat dalam ilmu, tajam dalam pena, berani dalam prinsip, dan luas dalam kepedulian.

Sebab bagi Mohammad Natsir, dakwah tidak berhenti di mimbar. Ia hidup dalam tulisan, pendidikan, pelayanan umat, bahkan dalam keputusan-keputusan besar yang menentukan arah perjalanan sebuah bangsa.

“Rahimahullahu rahmatan wasi’ah. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat yang luas kepada Allahyarham Buya Dr. H. Mohammad Natsir,” pungkas Anto. []

Laman sebelumnya 1 2 3 4
Back to top button