Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk
Mereka semua ditahan di bawah pengawasan penjagaan yang sangat ketat hingga jalannya pertempuran berakhir dengan jelas. Pihak musuh sengaja melakukan hal itu agar setelah menang, mereka dapat berpaling untuk memperlakukan para wanita tawanan tersebut dengan kesombongan layaknya para pemenang perang.
Khawlah mengedarkan pandangannya ke sekeliling area penahanan dengan gejolak amarah yang terpendam di dalam dadanya kala merasa dunia seakan menjepitnya dengan kesempitan. Ia sangat membenci kenyataan jika jatuhnya ia ke dalam penawaran Romawi ini harus menjadi titik akhir dari awal lembaran jihadnya.
Pikiran Khawlah mulai berputar keras untuk mencari jalan keluar selain opsi menyerah dan tunduk pada keadaan. Ia sangat sadar bahwa dirinya hanyalah seorang wanita yang tak berdaya bersama rekan-rekan wanitanya yang juga tidak memiliki kekuatan militer maupun senjata di tangan mereka.
Namun, ia juga sangat memahami bahwa menerima kenyataan pahit ini begitu saja berarti ia bersama para wanita muslimah Arab lainnya akan dijadikan sebagai budak tawanan perang bagi bangsa Romawi. Hal itu tentu akan membawa noda aib yang mencoreng kehormatan mereka ke mana pun mereka dibawa pergi.
Khawlah menimbang detail permasalahan tersebut dari berbagai sudut pandang yang ada. Setelah berpikir matang, nilai sebuah kematian di medan laga dirasanya jauh lebih ringan dan terhormat daripada hidup menanggung kehinaan.
Khawlah segera mengumpulkan rekan-rekan wanita tawanannya di satu titik, lalu mengutarakan rencana nekat yang berkecamuk di dalam benaknya secara jujur. Ia merasa sangat bahagia karena gagasannya tersebut disambut baik dengan gaung pemikiran yang sama dari dalam sanubari seluruh rekan-rekannya.
Pertempuran penentu antara kedua pasukan besar sebenarnya masih terus berlangsung sengit di lokasi yang cukup jauh dari tempat penahanan mereka. Gemuruh teriakan dan pekik para prajurit pria yang sesekali sampai ke telinga mereka seketika membakar semangat di dalam hati para wanita tersebut.
Peluang emas untuk mengeksekusi rencana pelarian akhirnya terbuka lebar setelah mayoritas prajurit Romawi penjaga kamp dikerahkan maju ke garis depan medan pertempuran. Akibatnya, sistem penjagaan yang mengawasi mereka menjadi sangat longgar, dan situasi lingkungan sekitar seolah mengisyaratkan urgensi tinggi bagi mereka untuk segera mengambil tindakan yang cepat lagi tegas.
Tanpa membuang waktu, suara Khawlah yang semula tenang seketika menggelegar lantang di hadapan rekan-rekannya, “Wahai putri-putri pamanku, sesungguhnya angin kemenangan tengah berembus memihak kita dan celah untuk membebaskan diri telah terpampang nyata di depan mata, maka bangkitlah karena waktu untuk bertindak telah tiba!” “Sesungguhnya sebuah kematian yang terhormat jauh lebih mulia daripada noda kehinaan yang akan mencoreng nama kita hingga akhir zaman.”

“Kita harus melancarkan satu aksi serangan yang jujur dan mengejutkan demi menggentarkan musuh, sehingga kita bisa selamat atau mati syahid di jalan Allah,” serunya membakar semangat. “Peganglah tiang-tiang tenda serta pasak-pasak besi di tangan kalian, lalu mari kita serbu para penjaga itu dengan barisan yang rapat tanpa terpisah satu sama lain agar tidak ada celah bagi mereka untuk memecah belah kita!”
“Oleh karena itu wahai wanita-wanita merdeka Arab, satukan kekuatan bersama denganku, dan yakinlah bahwa Allah senantiasa bersama kita!” tegas Khawlah menutup seruannya. Untaian kalimat tersebut berhasil membakar keberanian di dalam hati para wanita, sehingga mereka bergerak serentak mencabut tiang-tiang dan pasak tenda dari tanah.
Mereka merangsek maju dengan kekuatan penuh dan hantaman yang keras ke arah para penjaga kamp mereka. Serangan mendadak dari para wanita tawanan ini seketika membuat para penjaga Romawi terperanjat hebat dan kehilangan kendali diri karena jumlah mereka yang tinggal sedikit di dalam kamp.






