Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk
Khalid bergumam penuh kekaguman, “Aduhai, seandainya aku tahu siapakah sebenarnya ksatria penunggang kuda yang gagah berani ini?” Terinspirasi oleh aksinya, pasukan muslim segera merapatkan barisan untuk mendesak maju di belakang ksatria misterius yang telah berhasil menggentarkan mental Romawi tersebut.
Seorang sahabat bernama Rafi’ bin Umairah berkata kepada beberapa prajurit yang menanyakan identitas ksatria asing tersebut, “Melihat kehebatannya, dia pastilah sang panglima Khalid bin al-Walid.” Namun, dugaan itu keliru karena tidak lama kemudian Khalid justru muncul di dekat mereka, yang seketika membuat Rafi’ terperanjat kebingungan.
Rafi’ segera menghampiri sang panglima untuk menanyakan identitas ksatria yang telah berhasil menyebarkan teror ketakutan di dalam hati musuh tersebut. Khalid pun menjawab dengan jujur, “Demi Allah, sesungguhnya aku jauh lebih takjub dan penasaran daripada kalian semua.”
Rafi’ berseru dengan penuh keheranan, “Lihatlah wahai Amir, dia telah berhasil menembus jauh ke dalam jantung pertahanan tentara Romawi seraya menebas ke kanan dan ke kiri tanpa memedulikan risiko kematian sedikit pun!”
Khalid terus menatap tajam ke arah medan pertempuran, dan ketika tanda-tanda kemenangan mulai tampak jelas di depan mata, ia langsung berseru lantang kepada pasukannya. “Wahai seluruh kaum pria, kerahkan seluruh kekuatan kalian untuk menyerbu maju di belakang ksatria ini!” perintah Khalid tegas.
Pasukan muslim segera bergerak maju secara massal dengan dipimpin langsung oleh Khalid di barisan depan. Di mata mereka, ksatria misterius itu tampak bergerak lincah bagaikan kobaran api yang membakar pertahanan musuh dengan diikuti oleh deru derap langkah kuda pasukannya.
Setiap kali barisan tentara Romawi mencoba mengepungnya, ksatria itu dengan tangkas berbalik menyerang mereka hingga memaksa musuh mundur kembali dalam kondisi kalah dan merugi. Akhirnya, ksatria misterius tersebut bergerak mundur menuju ke posisi tempat Khalid berada, dengan kondisi seluruh jubah perangnya telah bersimbah darah musuh.
Melihat kedatangannya, Khalid berseru lantang dengan penuh rasa hormat, “Sungguh luar biasa kepiawaianmu wahai ksatria, engkau telah menunaikan perjuangan terbaik di jalan Allah!” “Maka bukalah cadar penutup wajahmu itu, agar kami semua dapat mengetahui siapakah sosok pahlawan yang sebenarnya,” pinta Khalid.
Namun, ksatria misterius tersebut enggan membuka cadarnya dan justru berbalik pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Khalid kembali mengejarnya seraya bertanya dengan penuh harap, “Celaka kamu, sesungguhnya engkau telah membuat hati seluruh orang di sini dipenuhi rasa penasaran, maka katakanlah kepada kami siapakah dirimu yang sebenarnya?!”
Ksatria itu menghentikan langkah kudanya tetapi tetap memilih bungkam dengan wajah yang masih tertutup cadar rapat. Melihat hal itu, Khalid kembali mendesaknya dengan tegas agar ia mau berbicara.
Akhirnya, ksatria misterius tersebut bersedia membuka suara, dan Khalid seketika terperanjat mundur saat mendengar nada suara yang keluar ternyata sangat lembut. Ia mendengarkan ksatria wanita itu berkata, “Sesungguhnya aku sengaja menghindar darimu wahai Amir, semata-mata karena rasa maluku kepadamu, maka maafkanlah sikap diamku serta keegonanku untuk memilih bungkam sebelumnya.”
Khalid bertanya dengan perasaan takjub yang amat luar biasa, “Jika demikian, siapakah engkau sebenarnya?” Ksatria wanita itu menjawab, “Aku adalah Khawlah binti al-Azwar; sebelumnya aku berada di pos belakang bersama kaum wanita, tetapi begitu mendengar kabar ditawannya saudaraku, Dhirar, aku langsung menunggangi kuda ini untuk bertempur.”






