IBRAH

Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk

Para penjaga tersebut akhirnya lari kocar-kacir di hadapan ketangguhan shaf kaum wanita yang bergerak ofensif di bawah komando Khawlah binti al-Azwar dalam membuka rute pembebasan. Gadis pemberani itu bersama rekan-rekan wanitanya akhirnya berhasil kembali ke perkemahan pasukan pria mereka setelah seluruhnya sukses meloloskan diri dari penawaran musuh.

Keberhasilan pelarian mereka yang spektakuler itu seketika mengguncang dan mengagumkan hati para prajurit pria muslim. Suara pekik takbir pun bergemuruh lantang dilaungkan dengan penuh keimanan, “Allahu akbar! Allahu akbar!”

Sebaliknya, mental pasukan Romawi di garis depan seketika jatuh dan barisan pertahanan mereka menjadi kacau-balau akibat terkejut. Mereka terpaksa mundur melarikan diri menuju sebuah benteng baru dari sekian banyak benteng pertahanan mereka, dengan terus diburu oleh para penunggang kuda muslim yang gagah berani.

Dhirar dan saudarinya, Khawlah, akhirnya dapat bertemu kembali di dalam sebuah momentum gencatan senjata yang damai. Dhirar mendengarkan kisah pelarian yang dituturkan adiknya dengan perasaan penuh kebahagiaan, sekaligus membenarkan argumen adiknya bahwa seorang wanita muslimah pun sanggup menciptakan keajaiban yang luar biasa di medan laga.

Setelah jeda tersebut, Dhirar kembali mengambil posisinya di barisan terdepan pasukan, sedangkan Khawlah tetap tinggal di pos belakang bersama kaum wanita lainnya. Sesaat kemudian, genderang peperangan kembali ditabuh dengan sengit.

Dari posisinya, Khawlah mendengar kabar burung bahwa kakaknya, Dhirar, bertempur dengan gagah berani di garis paling depan pasukan. Kakaknya bahkan dilaporkan telah berhasil menumbangkan sekian banyak ksatria musuh, yang salah satu di antaranya adalah putra dari komandan garnisun Romawi.

Khawlah bersorak gembira mendengar kabar tersebut, lalu melantunkan syair-syair kemenangan dengan suara lantang demi menghormati keberanian saudara kandungnya. Ia tetap tinggal di posnya sembari menanti kelanjutan informasi dengan penuh harap.

Namun, kabar berikutnya yang datang justru berupa petaka bahwa Dhirar telah jatuh ke dalam tawanan pasukan Romawi. Bumi seakan berguncang hebat di bawah kakaknya, dunia seketika terasa gelap gulita di matanya, dan nilai sebuah kehidupan dirasanya tidak lagi berarti tanpa kehadiran sang kakak.

Didorong oleh rasa cinta yang besar, Khawlah dengan tangkas dan penuh kehati-hatian segera menyelinap keluar dari barisan kaum wanita. Ia bersiap mengambil tindakan nekat demi menyelamatkan kakaknya.

Di tengah pertempuran yang sengit, pasukan muslim dikejutkan oleh pemandangan yang sangat menakjubkan saat mereka sedang berhadapan dengan tentara Romawi. Mereka menyaksikan kehadiran seorang penunggang kuda misterius yang belum pernah mereka lihat sebelumnya di dalam barisan pertahanan mereka.

Ksatria misterius tersebut merangsek maju menghantam barisan musuh bagaikan sambaran petir yang dahsyat, hingga membuat barisan tentara Romawi mundur teratur di hadapan tebasan pedangnya. Panglima Khalid bin al-Walid yang sedang memantau jalannya pertempuran pun dibuat takjub sekaligus penasaran oleh aksi heroisme ksatria asing yang seluruh wajahnya tertutup rapat oleh cadar dan hanya menyisakan kedua matanya saja.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6Laman berikutnya
Back to top button