Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk
Dalam pertempuran itu, ksatria bercadar misterius kembali menunjukkan aksinya yang memukau di medan laga. Sabetan pedangnya bergerak lincah menumbangkan kepala musuh sekaligus menyebarkan teror ketakutan yang hebat di dalam hati tentara Romawi.
Pertempuran singkat namun sengit itu akhirnya berakhir dengan larinya sisa-sisa tentara Romawi yang masih hidup dari lokasi kejadian. Dhirar berdiri bebas dari ikatannya seraya memandang ke sekeliling dengan perasaan takjub dan kagum yang luar biasa kepada ksatria bercadar yang telah berhasil melakukan aksi heroisme yang bahkan nyaris tidak sanggup dilakukan oleh ksatria pria mana pun.

Namun, sebelum rasa takjubnya itu hilang, ksatria misterius tersebut tiba-tiba melompat turun dari atas kudanya dan langsung berlari menjatuhkan diri ke dalam pelukan Dhirar dengan erat. Dhirar berseru dengan penuh keterkejutan yang amat sangat, “Khawlah?! Apakah ini benar-benar engkau?!”
Khawlah menjawab di dalam pelukannya, “Benar kak, ini adalah aku, Khawlah.” Dhirar menghela napas panjang seraya berkata, “Aduhai, celaka aku, aksimu yang nekat ini nyaris saja mengantarkan nyawamu sendiri pada kematian.”
Khawlah menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca, lalu menjawab dengan untaian kalimat yang sangat menyentuh hati, “Wahai kak Dhirar, lalu apakah arti sebuah kehidupan ini jika aku harus hidup tanpamu di dunia?”[]
(Disadur dari karya Saniyah Qura’ah, dalam Al-Arabiyyah Lin Nasyiin Jilid 6)






