Jejak Pengorbanan Khawlah binti al-Azwar di Perang Yarmuk
Khalid terdiam sejenak memandangi lawan bicaranya itu dengan saksama, lalu memuji setinggi-tingginya atas keberanian serta besarnya rasa cinta Khawlah kepada saudara kandungnya. Sang panglima kemudian menegaskan kepadanya, “Demi Allah, kita akan melancarkan serangan gelombang kedua sekarang juga, dan kita pasti akan menembus barisan musuh hingga berhasil mencapai lokasi tempat Dhirar ditawan!”
Pertempuran gelombang kedua pun kembali pecah dengan sengit, dan Khawlah kembali terjun ke dalamnya dengan tingkat keberanian yang sama yang telah berhasil memukau semua orang. Serangan masif itu berlangsung hingga barisan musuh kocar-kacir; sebagian tentara Romawi memilih melarikan diri, sementara mereka yang ingin selamat memilih menjatuhkan senjata untuk menyerah.
Kemenangan mutlak akhirnya berhasil diraih oleh pasukan muslim, tetapi sayangnya mereka tetap tidak berhasil menemukan keberadaan Dhirar di tempat tersebut. Hari pun mulai beranjak senja, malam pun tiba, dan kedua belah pihak yang bertikai akhirnya bergerak mundur kembali ke dalam perkemahan masing-masing.
Kondisi berbeda ditunjukkan oleh Khawlah, yang menolak kembali ke tenda dan memilih terus berjalan menyusuri medan pertempuran yang gelap demi mencari keberadaan kakaknya. Ia menanyakan perihal Dhirar kepada setiap orang yang ditemuinya di jalan, namun tidak ada seorang pun yang bisa memberikan jawaban pasti.
Ia akhirnya kembali ke dalam tendanya dengan tangis yang tumpah dalam kedukaan yang mendalam. Sambil meratapi nasib kakaknya, ia berbisik lirih penuh penyesalan, “Wahai putra ibuku, aduhai seandainya aku tahu di padang belantara manakah mereka telah mencampakkan jasadmu, dan dengan mata tombak manakah mereka telah menghujam tubuhmu?”
“Sungguh, saudarimu ini rela menjadi tebusan demi keselamatanmu,” ratapnya pilu. Tangis ratapannya terdengar sangat menyayat hati hingga terdengar oleh para prajurit di sekitar tenda yang membuat mereka ikut menangis, dan kesedihannya itu turut menggetarkan hati panglima Khalid bin al-Walid.
Pada keesokan harinya, sepasukan tentara Romawi berhasil ditawan oleh pasukan muslim, dan para prajurit segera membawa mereka menghadap ke tenda Khalid. Khalid langsung menginterogasi mereka mengenai keberadaan Dhirar seraya menjabarkan ciri-ciri fisiknya dengan detail.
Seorang perwira Romawi dari barisan tawanan tersebut menjawab, “Sesungguhnya ia masih hidup dan belum mati; ia ditawan langsung oleh panglima kami karena ia telah membunuh putra kesayangan panglima kami dalam pertempuran.” Perwira itu menjelaskan bahwa panglimanya telah mengeluarkan instruksi tegas agar Dhirar dibawa menuju Kota Hims dengan dikawal ketat oleh seratus orang ksatria berkuda.
Khawlah yang ikut mendengarkan penuturan perwira tersebut seketika berteriak histeris karena gembira mengetahui kakaknya masih hidup. Khalid pun langsung berseru memanggil kepercayaannya, “Wahai Rafi’ bin Umairah!”
Rafi’ segera datang menghadap dengan tergesa-gesa, lalu Khalid memerintahkannya untuk membawa seratus penunggang kuda terbaik guna mengejar rombongan Romawi tersebut dan pulang membawa Dhirar bin al-Azwar dalam kondisi selamat. Khawlah langsung bersujud di kaki Khalid seraya memohon dengan sangat, “Izinkanlah aku untuk ikut pergi bersama dengan mereka!”
Khalid akhirnya memberikan izin kepada Khawlah untuk ikut serta dalam misi penyelamatan tersebut, dengan syarat ia harus berkendara di posisi paling belakang dari barisan demi menghindari risiko bahaya. Rafi’ bin Umairah segera bergerak memimpin seratus prajuritnya, dengan diikuti oleh Khawlah yang mengendarai kudanya dalam kondisi persenjataan perang yang lengkap di barisan belakang.
Setelah melakukan pengejaran yang intens, rombongan pasukan Romawi akhirnya terlihat di depan mata dengan Dhirar berada di tengah-tengah mereka dalam kondisi terikat. Pasukan muslim segera melancarkan serangan mendadak yang mengejutkan kepada pihak musuh.






