RESONANSI

Jurnalisme Islam: Menjadi Muazin Peradaban di Tengah Arus Algoritma

Nurani adalah hal yang pertama kali hilang ketika berita telah berubah menjadi sekadar komoditas ekonomi.

Jurnalisme tidak lagi menjadi alat untuk mencerdaskan umat, tetapi menjadi instrumen penggiring opini, memperuncing konflik, bahkan memperdagangkan keburukan sesama manusia.

Kritik terhadap media dalam kondisi ini bukan sekadar soal profesionalisme, melainkan juga menyentuh aspek spiritualitas.

Integritas seorang jurnalis tidak cukup jika hanya dibangun dengan keterampilan menulis atau kemampuan investigasi yang mumpuni.

Ada dimensi ruhani yang sangat penting dan tidak boleh diabaikan oleh para praktisi media.

Seorang jurnalis yang jauh dari disiplin ibadah dan terbiasa lalai terhadap salat berjamaah dikhawatirkan akan kehilangan kejernihan nurani dalam melihat realitas.

Pesan ini mengandung peringatan penting bahwa kualitas tulisan sering kali lahir dari kedalaman kualitas jiwa penulisnya.

Terdapat empat prinsip penting yang layak menjadi fondasi kuat bagi jurnalisme Islam.

Pertama, media harus menjadikan kebenaran sebagai kiblat editorial tanpa tunduk pada tekanan modal, kepentingan politik, atau fanatisme kelompok.

Umat akan kehilangan penimbang yang adil ketika media hanya berfungsi sebagai corong kepentingan pihak tertentu.

Jurnalisme Islam harus berdiri kokoh sebagai penjernih informasi, bukan sebagai pemecah belah persatuan.

Kedua, keadilan harus dijadikan sebagai ruh dalam melakukan pembingkaian (framing) sebuah berita.

Fakta tidak boleh dipelintir hanya demi menyerang lawan politik atau membangun narasi kebencian di tengah masyarakat.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button