Jurnalisme Islam: Menjadi Muazin Peradaban di Tengah Arus Algoritma
Oleh: KH Bachtiar Nasir, Cendekiawan Muslim.
Jurnalisme perlahan kehilangan ruhnya di tengah derasnya arus algoritma, viralitas, dan persaingan klik yang kian masif.
Berita tidak lagi dipandang sebagai amanah untuk menyampaikan kebenaran, melainkan komoditas yang diperjualbelikan demi trafik, popularitas, dan kepentingan pemilik modal.
Gagasan tentang jurnalisme Islam sebagai “muazin peradaban” menjadi sangat relevan sekaligus menggugah dalam situasi seperti ini.
Seorang muazin bukan sekadar orang yang mengumandangkan azan dalam pengertian teknis semata.
Muazin, dalam makna yang lebih dalam, adalah penyeru kepada kebenaran yang memanggil manusia menuju keselamatan, persatuan, dan penghambaan kepada Allah.
Jurnalis Muslim sejatinya bukan hanya sekadar pencari berita, melainkan penjaga nurani publik ketika konsep ini dibawa ke dunia jurnalistik.
Spirit tersebut tergambar jelas dari kisah Nabi Ibrahim AS dalam Surah Al-Hajj ayat 27: “Wa adzdzin fin-nasi bil hajj”. “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji.”
Ibrahim menyeru dari lembah tandus tanpa adanya jaminan bahwa manusia akan mendengar panggilannya tersebut.
Keyakinan beliau bukan pada kekuatan diri sendiri, melainkan sepenuhnya pada pertolongan Allah.
Titik inilah yang melahirkan pelajaran besar bagi media Islam agar tidak takut memulai dari hal kecil dan tidak minder dengan keterbatasan selama memperjuangkan kebenaran.
Sayangnya, banyak media hari ini justru sering terjebak dalam praktik mendewakan algoritma.
Ukuran keberhasilan sebuah karya jurnalistik kini direduksi menjadi sekadar angka penonton, trending topic, dan viralitas semata.
Fenomena “bad news is good news” atau “orang menggigit anjing lebih laku daripada anjing menggigit orang” menjadi simbol bagaimana sensasi lebih diprioritaskan dibanding substansi.
Media semestinya bertransformasi menjadi “media azan” yang bertugas menyeru masyarakat kepada kesadaran, keadilan, dan keberanian moral.






