Kecerdasan Revolusioner Orang Iran
Oleh: Dr. Yanuardi Syukur, M.Si., Dosen Antropologi Universitas Khairun.
Buat rudal, drone, dan pengayaan nuklir tentu saja tidak mudah, tapi orang Iran bisa, bahkan meningkat terus. Dari sisi ini kita lihat ada semangat kecerdasan. Cerdas dalam sains, berani hidup dalam tekanan, sekaligus revolusioner dalam membela bangsa dan peradabannya.
Merujuk Muslim Network TV (12/5/2025), dalam sebuah survei dikatakan bahwa kecerdasan IQ orang Iran berada di tingkat keempat dunia.
“Iran telah mengamankan posisi keempat dalam peringkat kecerdasan global berdasarkan skor IQ rata-rata, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh International IQ Test yang melibatkan lebih dari 1,3 juta peserta di seluruh dunia. Studi tersebut mengungkapkan bahwa rata-rata IQ Iran berada di angka 106,3, menempatkannya di bawah hanya China (107,19), Korea Selatan (106,43), dan Jepang (106,4),” tulis Muslim Network TV.
Peringkat keempat dunia dalam rata-rata IQ yang diraih Iran seringkali dipahami sebagai capaian statistik belaka. Namun bagi saya, angka ini adalah pintu masuk untuk memahami fenomena yang jauh lebih menarik: bagaimana sebuah masyarakat dengan warisan intelektual ribuan tahun bergulat dengan realitas politik yang sarat paradoks. Data-data survei dari IranPoll menunjukkan bahwa warga Iran mungkin jauh lebih rasional daripada yang digambarkan oleh narasi media arus utama maupun propaganda rezim mereka sendiri.
Dalam berbagai jajak pendapat yang dilakukan sejak 2015, kita menemukan konsistensi yang mengagumkan. Mayoritas warga Iran menolak pengembangan senjata nuklir, meskipun hampir semuanya mendukung program nuklir sipil. Ini bukan sekadar perbedaan teknis, melainkan cermin kedewasaan berpikir.
Di tengah doktrinasi anti-Barat yang terus digaungkan penguasa, publik Iran ternyata mampu membedakan antara hak sipil untuk kemajuan teknologi dengan risiko eskalasi militer yang membahayakan masa depan mereka.
Hal menarik lainnya, kecerdasan tersebut juga terlihat dalam sikap mereka terhadap JCPOA atau kesepakatan nuklir 2015. Dukungan yang semula mencapai 76% ambruk menjadi 42% pada akhir 2019. Penurunan ini bukan karena mereka tiba-tiba menjadi hawkish atau pro-senjata nuklir.
Justru sebaliknya, ini adalah respons rasional atas kenyataan bahwa negara-negara besar tidak memenuhi janji mereka. Ketika tiga perempat warga mendukung keputusan Iran melampaui batas kesepakatan, itu adalah ekspresi kekecewaan yang masuk akal, bukan luapan emosi nasionalistik.
Namun, rasionalitas ini tidak berarti naif. Survei yang sama menunjukkan bahwa jika fasilitas nuklir mereka diserang, dua pertiga warga mendukung respons militer. Ini bukan kontradiksi, melainkan logika pertahanan diri yang universal.
Masyarakat yang cerdas tahu kapan harus menahan diri dan kapan harus bersikap tegas. Mereka paham bahwa diplomasi adalah jalan terbaik, tetapi juga sadar bahwa di kawasan Timur Tengah yang keras, menunjukkan kelemahan bisa menjadi undangan bagi agresor.
Kecerdasan publik Iran juga tercermin dalam cara mereka membaca sumber masalah domestik. Survei September 2021 mengungkap bahwa tiga perempat warga menilai ekonomi buruk dan—ini yang penting—mereka menyalahkan salah urus serta korupsi di dalam negeri, bukan semata-mata sanksi asing.
Di tengah narasi resmi yang terus menerus mengkambinghitamkan “musuh eksternal”, publik Iran mampu melihat realitas dengan jernih. Mereka tahu bahwa meskipun sanksi menyakitkan, korupsi dan inkompetensi pejabat sendiri adalah penyakit yang lebih menggerogoti.






