Krisis Adab Zaman Digital: Influencer Lebih Didengar daripada Ulama
Namun, kita perlu menyadari bahwa algoritma tidak dirancang untuk mencari orang yang paling berilmu di dunia nyata. Sistem digital ini dirancang untuk mencari konten yang paling menarik perhatian dan memicu interaksi massal.
Karena itulah, konten keagamaan yang sensasional dan memancing emosi jauh lebih cepat menyebar di media sosial. Narasi kontroversial lebih mudah viral dibandingkan pembacaan kitab ulama yang dilakukan secara tenang dan sistematis.
Sebagai kepala sekolah, saya melihat generasi Z tumbuh dalam lingkungan banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Mereka membaca banyak hal di internet, tetapi tidak selalu mendalami hakikat dari apa yang mereka baca tersebut.
Mereka mengetahui banyak nama tokoh viral, tetapi tidak selalu mengenal kedalaman gagasan yang ada. Para remaja ini menyaksikan banyak perdebatan, tetapi tidak selalu terbiasa berpikir secara mendalam dan jernih.
Oleh karena itu, tantangan pendidikan kita hari ini sesungguhnya bukan lagi masalah kekurangan akses informasi. Persoalan utama kita adalah bagaimana membangun kembali penghormatan generasi muda terhadap proses belajar yang benar.
Cendekiawan Muslim, Syed Muhammad Naquib Al-Attas, pernah mengingatkan bahwa krisis terbesar umat bukanlah kehilangan ilmu, melainkan kehilangan adab terhadap ilmu. Dalam konteks hari ini, hilangnya adab itu tampak ketika popularitas lebih dihormati dan dipuja daripada sebuah keilmuan.
Kita menjadi lebih mudah terpesona oleh jumlah pengikut daripada riwayat perjalanan intelektual seseorang. Kita lebih tertarik pada siapa yang viral daripada siapa yang benar-benar mendalami persoalan umat berdasarkan dalil.
Padahal, sejarah emas peradaban Islam dibangun oleh para ulama yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk belajar. Mereka rela menempuh perjalanan ribuan mil yang jauh dan melelahkan hanya demi memverifikasi satu buah hadis Rasulullah saw.
Para ulama terdahulu menghabiskan malam-malam yang panjang bersama kitab demi mengharap rida Allah Swt. Mereka tidak mengejar viralitas karena mereka hanya fokus mengejar kebenaran ilmu demi kemaslahatan umat.
Mungkin karena keikhlasan itulah, warisan kitab-kitab mereka tetap bertahan dan dibaca selama berabad-abad. Hal ini sangat kontras dengan berbagai sensasi digital hari ini yang biasanya hanya bertahan selama beberapa hari lalu dilupakan.
Tulisan ini tentu bukan sebuah ajakan bagi umat Islam untuk meninggalkan media sosial secara total. Yang perlu kita lakukan bersama hari ini adalah mengembalikan keseimbangan yang telah bergeser tersebut.
Kita boleh menikmati kemudahan teknologi, tetapi jangan sampai kehilangan penghormatan terhadap tradisi keilmuan. Sebab pada akhirnya, jumlah pengikut hanya menunjukkan popularitas dan tidak akan pernah menunjukkan otoritas keilmuan yang sejati.
Otoritas yang berkah tetap lahir dari integrasi ilmu, adab, dan sanad yang menjaga pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di tengah dunia digital yang semakin bising oleh perebutan perhatian, pelajaran berharga inilah yang paling perlu kita wariskan kepada generasi muda.[]






