RESONANSI

Krisis Adab Zaman Digital: Influencer Lebih Didengar daripada Ulama

Internet memang membuat informasi tersedia bagi semua orang secara mudah dan cepat. Ironisnya, kemudahan ini justru membuat sebagian orang merasa tidak lagi memerlukan pakar karena merasa cukup memahami persoalan hanya dari video pendek.

Akses terhadap informasi kini sering kali disalahartikan sama dengan kepemilikan pengetahuan, padahal keduanya sangat berbeda. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik, sedangkan pengetahuan sejati membutuhkan waktu dan proses yang jauh lebih lama.

Dalam konteks keagamaan, perbedaan antara informasi dan pengetahuan ini menjadi jauh lebih krusial. Agama bukan sekadar kumpulan informasi yang dapat dicari melalui mesin pencari, melainkan berkaitan dengan metodologi, pemahaman, adab, dan tradisi.

Di sinilah letak pentingnya kedudukan sanad dalam transmisi keilmuan Islam dari generasi ke generasi. Sanad bukan hanya dikenal dalam periwayatan hadis, melainkan menjadi ruh dari penjagaan kemurnian ilmu itu sendiri.

Melalui sanad, seorang murid mengetahui secara jelas dari siapa ia mengambil ilmu agama. Sanad pula yang menjadi alat bagi masyarakat untuk mengetahui apakah seseorang benar-benar menempuh perjalanan ilmu atau sekadar mengumpulkan potongan informasi viral.

Ulama tabiin terkemuka, Abdullah bin Mubarak, menegaskan arti penting sanad ini dalam kitab Al-Jami’ li Akhlaqir Rawi wa Adabis Sami’. Beliau mengatakan, “Sanad adalah bagian dari agama. Seandainya tidak ada sanad, setiap orang pasti akan mengatakan apa saja yang ia kehendaki.”

Ungkapan bersejarah tersebut terasa sangat relevan seolah sedang ditujukan langsung kepada realitas zaman kita hari ini. Hari ini siapa saja bisa berbicara tentang urusan agama, membuka kanal YouTube, dan menyampaikan pendapatnya kepada ribuan orang secara bebas.

Islam memang tidak pernah memonopoli penyebaran ilmu kepada umatnya. Namun, persoalan besar akan muncul ketika kemampuan berbicara di depan kamera dianggap sama dengan kapasitas keilmuan syar’i.

Dalam tradisi Islam, pertanyaan mendasar yang diajukan kepada seorang guru bukan hanya tentang apa yang ia katakan, melainkan dari siapa ia belajar. Pertanyaan itu penting karena ilmu tidak lahir di ruang hampa, melainkan lewat bimbingan guru dan kesabaran yang panjang.

Sayangnya, media sosial bekerja dengan logika algoritma yang sangat berbeda dengan tradisi sanad. Jika sistem sanad bertanya tentang dari siapa kamu belajar, maka algoritma hanya bertanya tentang berapa banyak orang yang menontonmu.

Jika sanad sangat menghargai sebuah proses, maka algoritma hanya menghargai kuantitas perhatian visual. Jika jalur sanad membutuhkan waktu bertahun-tahun, algoritma digital dapat mengangkat seseorang menjadi tokoh agama instan hanya dalam hitungan minggu.

Perbandingan ini tentu tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan antara tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan teknologi. Teknologi dan media sosial hanyalah alat yang juga banyak dimanfaatkan oleh para ulama untuk berdakwah secara luas.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button