Krisis Tempat Tinggal di Gaza

Mimpi Sederhana yang Kini Sulit Diraih
Youssef Mahmoud Aziz, yang mengungsi dari Jabalia di Gaza utara, kini tinggal bersama keluarganya di sebuah sekolah yang rusak di kawasan Rimal, Kota Gaza.
“Bahkan hal-hal yang paling mendasar, seperti memiliki atap di atas kepala, makanan yang cukup, dan menyekolahkan anak-anak, kini menjadi mimpi yang sulit diwujudkan di Kota Gaza.”
Ia dan keluarganya hidup bersama banyak keluarga lain yang berusaha membangun kembali kehidupan mereka di tengah kehancuran yang meluas.
Seorang Ibu Tanpa Kedua Lengan
Nibal al-Hissi, ibu muda dengan seorang anak, kehilangan kedua lengannya akibat serangan peluru artileri Israel.
Kini ia tinggal di sebuah tenda di lokasi pengungsian di Gaza timur.
“Saya berharap bisa menggendong putri saya, memberinya makan, dan memakaikannya pakaian seperti yang dilakukan semua ibu di dunia.”
Tanpa kedua lengannya, kegiatan sederhana seperti makan, berpakaian, dan merawat anaknya kini menjadi perjuangan setiap hari.
Hidup di Bawah Rumah yang Bisa Runtuh Sewaktu-waktu
Ali Harb dan istrinya tinggal di ruang bawah tanah rumah mereka yang rusak di kawasan Yarmouk, Kota Gaza.
“Saya tidak punya tempat lain untuk pergi.”
Mereka tetap tinggal di sana meskipun setiap saat dihantui rasa takut bangunan yang sudah rapuh itu bisa runtuh.
Lebih dari 20 Kali Mengungsi
Mohammed Jamil Diab, istrinya, dan tiga anak mereka berasal dari lingkungan Shuja’iyya di Gaza timur.
Selama perang mereka telah mengungsi lebih dari 20 kali.
Kini mereka tinggal di ruang bawah tanah sebuah masjid yang rusak di kawasan Rimal.
“Hidup telah menjadi perjuangan setiap hari untuk bertahan hidup.”
Mereka terus hidup dalam ketidakpastian mengenai apa yang akan terjadi esok hari.






