Krisis Tempat Tinggal di Gaza

Menyesali Waktu yang Hilang
Suhail al-Yazji, warga kawasan Yarmouk, Kota Gaza, kini menjadi satu-satunya penopang keluarganya setelah suaminya terluka dalam perang.
Ia tinggal di sebuah tenda rusak yang diperkuat dengan terpal di samping puing-puing rumah mereka.
“Seandainya saya tahu hidup kami akan berubah sedrastis ini, saya akan menghargai setiap momen yang kami miliki.”
Foto dirinya diambil ketika ia sedang menunggu anak-anaknya pulang dari kelas pendidikan informal yang diselenggarakan di lokasi pengungsian terdekat.
Menjadi Ibu Sekaligus Ayah
Amina Saadallah, ibu enam anak, kehilangan suaminya pada awal perang.
Kini ia tinggal bersama anak-anaknya di sebuah tenda kain yang hampir tidak mampu melindungi mereka dari panas maupun dingin.
“Tidak mudah menjadi ibu sekaligus ayah bagi keluarga besar.”
“Namun saya tidak punya pilihan selain terus bertahan demi anak-anak saya.”
Dari Aktris Menjadi Tulang Punggung Keluarga
Asmaa Shtewi dahulu bekerja sebagai aktris teater.
Kini, setelah mengungsi bersama dua putrinya dari tenggara Kota Gaza ke kawasan Pelabuhan Gaza, ia tinggal di tenda-tenda kemah sederhana.
“Saya berusaha sekuat tenaga memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anak saya.”
“Saya melawan pengungsian dan situasi ekonomi yang sangat sulit.”
Peran tersulit yang kini harus dijalaninya bukan lagi di atas panggung, melainkan menjadi ibu sekaligus ayah bagi kedua anaknya.
Bertahan Meski Kehilangan Suami
Dina Salem dan Donia Salem adalah dua bersaudara asal Mesir yang menetap di Gaza setelah menikah.
Ketika perang pecah, keduanya kehilangan suami masing-masing setelah rumah mereka dibom dan hancur.
Setelah lebih dari 20 kali mengungsi, mereka akhirnya menemukan tempat berlindung kecil di dekat pantai di Gaza selatan.
“Kami berusaha tetap kuat demi anak-anak kami, meskipun rasa sakit ini tak tertahankan.”
“Kami tidak memiliki pilihan selain terus bertahan.”






