#Bebaskan PalestinaLAPSUS

Krisis Tempat Tinggal di Gaza

“Rumah Adalah Bab Pertama dan Terakhir dari Penderitaan Kami”

Ahmed Qwaider, seorang petani dari Bani Suheila, sebelah timur Khan Younis, terpaksa mengungsi bersama keluarganya ke bagian barat kota. Dalam perang ini ia kehilangan rumah sekaligus mata pencahariannya.

Kini keluarganya tinggal di sebuah tempat penampungan darurat yang, meski sangat sederhana, setidaknya memberikan sedikit rasa aman dan martabat setelah kehilangan yang begitu besar.

“Bab pertama dan terakhir dari penderitaan yang kami alami dalam perang ini adalah kehilangan rumah kami. Seseorang hanya bisa benar-benar merasakan kenyamanan dan kedamaian di rumahnya.”

Kehilangan Anak dan Rumah

Rami Azmeila, ayah tujuh anak dari Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza utara, kehilangan dua putranya yang masih muda, masing-masing berusia 24 dan 22 tahun, ketika sebuah rudal menghantam rumah mereka.

Kini keluarganya tinggal di sebuah tenda darurat yang didirikan di atas atap bangunan rusak di dekat Kota Gaza.

“Saya tidak sanggup memahami semua yang terjadi pada kami.”

“Kehilangan anak-anak saya, terus-menerus mengungsi, luka-luka yang saya alami… semua ini melampaui apa yang sanggup ditanggung oleh seorang manusia.”

Merindukan Kehidupan yang Normal

Rani Al-Fayoumi, 25 tahun, berasal dari kawasan Shuja’iyya di Gaza timur.

Akibat perang, ia bersama keluarganya yang berjumlah empat orang kini tinggal di sebuah tenda di atas atap masjid di kawasan Rimal.

“Kadang-kadang saya membayangkan bisa kembali ke rumah seperti dahulu, tanpa rasa takut, tanpa pengungsian, menjalani kehidupan yang normal seperti orang lain.”

“Rumah Adalah Tanah Air Pertama”

Bagi Zakaria Aqel, rumah bukan sekadar bangunan.

“Rumah adalah tanah air pertama, tempat yang menyimpan seluruh kedamaian di dunia.”

“Seseorang yang tidak memiliki rumah berarti kehilangan identitasnya.”

Zakaria dan keluarganya berasal dari Kamp Pengungsi Jabalia di Gaza utara.

Setelah puluhan kali mengungsi, mereka akhirnya menetap di kawasan Zeitoun, Kota Gaza, ketika memperoleh tempat tinggal yang memberi sedikit stabilitas setelah berbulan-bulan berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Ia mengaku bahwa setiap kali mengungsi, ia selalu berusaha membangun rasa memiliki terhadap tempat baru yang mereka tinggali, meskipun hanya sementara.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button