NASIONAL

Kritik IKN Nusantara, Faisal Basri: Ibarat Surga Dikelilingi Neraka

Jakarta (SI Online) – Ekonom senior Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut IKN di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, bak ‘surga’ yang dikelilingi ‘neraka’.

Faisal mengatakan pengibaratan itu ia buat karena lokasi ibu kota baru dikelilingi oleh berbagai tambang migas batu bara, gas, kilang minyak. Ibu kota baru juga dikelilingi kebun sawit.

Ia menyebut tidak ada ibu kota di dunia yang dikelilingi industri ekstraktif yang bahkan usahanya dimiliki oleh oligarki. Tidak hanya itu, ia mengatakan pembangunan tersebut bertolak belakang dengan upaya pemerintah yang ingin membangun green city dan smart city untuk ibu kota baru.

“Ini unik, dia (pemerintah) bikin green city, smart city, tapi di sekelilingnya lain sama sekali. Jadi surga yang dikelilingi oleh neraka. Lama-lama surganya bisa panas juga,” kata Faisal saat menjadi pembicara dalam diskusi terbuka yang digelar oleh Universitas Mulawarman secara daring, Senin (31/01/2022).

Penasihat Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI itu juga menuturkan sempat menerima data terkait sumbangsih migas di Kalimantan Timur untuk Indonesia.

“Barusan saya dapat data tapi saya tidak mau gunakan karena saya belum verifikasi, tapi misalnya minyak itu di Kalimantan Timur menyumbang 20 persen dari minyak nasional, batu bara 65 persen, gas 24 persen, sawit cukup besar juga,” kata dia.

Ia mengatakan pemindahan ibu kota sebenarnya bukan tidak boleh dilakukan. Tapi menurutnya, pemindahan belum tepat dilakukan sekarang. Sebab, pemerintah memiliki banyak masalah ekonomi yang perlu segera diselesaikan.

Pertama, pertumbuhan ekonomi RI yang masih terus menunjukkan kecenderungan melambat. Kedua, pendapatan nasional per kapita merosot dan kembali turun kelas dari negara berpendapatan menengah-atas menjadi negara berpendapatan menengah-bawah.

Ketiga, kecepatan pemulihan ekonomi RI yang relatif lambat dibandingkan negara tetangga. Keempat, transformasi ekonomi tersendat, seperti ekspor masih didominasi oleh komoditas primer, peranan industri manufaktur terus merosot mencapai titik optimal, serta jumlah pekerja informal lebih besar dari pekerja formal.

Kelima, penduduk miskin ekstrem, miskin, nyaris miskin, dan rentan miskin masih lebih banyak dari separuh jumlah penduduk.

1 2Laman berikutnya

Artikel Terkait

Back to top button