Kushner dan Rencana Gaza
Sikap AS yang menganggap serangan terkendali “bukan masalah” mengindikasikan hubungan transaksional. Amerika terkesan lebih memprioritaskan stabilitas visual daripada substansi perdamaian jangka panjang.
Gedung Putih terkesan terburu-buru mengejar pencapaian simbolis bagi kepemimpinan Trump. Kepentingan pencitraan politik kerap mengabaikan solusi abadi bagi rakyat Palestina.
Korban jiwa di Gaza sejak Oktober 2023 telah mencapai 73.389 orang, dengan 174.266 lainnya luka-luka. Hampir 90 persen infrastruktur hancur dan 82 persen dari 200.000 bangunan rusak atau rata dengan tanah.
Di tengah kehancuran masif ini, perdebatan mengenai linimasa pelucutan senjata terasa sangat tidak berperikemanusiaan. Rakyat Gaza membutuhkan penghentian krisis dasar, makanan, obat-obatan, dan jaminan keselamatan.
PBB memperkirakan biaya rekonstruksi fisik Gaza mencapai 70 miliar dolar AS. Bahkan pasca-gencatan senjata, lebih dari 1.260 warga Palestina tetap gugur akibat pelanggaran berulang.
Kunjungan Kushner dan Mladenov berisiko hanya menghasilkan kesepakatan formal di atas kertas. Selama ambisi politik diutamakan, rakyat Palestina akan terus menjadi pihak yang dikorbankan.
Perdamaian sejati tidak lahir dari ruang rapat yang mewah. Keberanian menghentikan pendudukan dan kekerasan adalah akar penyelesaian konflik yang mendasar.
Dunia internasional harus bertindak tegas mendesak gencatan senjata permanen. Akses kemantuan harus dibuka seluas-luasnya demi memulai rekonstruksi Gaza secara menyeluruh.[]





