Munarman: Bangsa Ini Terjebak dalam Lingkaran Pengkhianatan Elite Sejak Awal Kemerdekaan
Pemaparan berikutnya, Munarman menggunakan analogi penyimpangan arah. Menurutnya, kesalahan kecil di titik awal akan menghasilkan jarak yang sangat jauh ketika dibiarkan berlangsung puluhan tahun.
Ia mengibaratkan perjalanan bangsa seperti garis yang melenceng satu derajat dari titik nol. Semakin lama, penyimpangan itu semakin melebar hingga menjauh dari cita-cita kemerdekaan.
“Kalau titik mulanya melenceng sedikit saja, makin lama makin jauh. Itulah yang saya lihat terjadi pada bangsa ini. Kita terus mengulang pengkhianatan terhadap amanah, sehingga seolah tidak pernah keluar dari lingkaran krisis,” jelasnya.
Oleh karena itu, sebagai aktivis pencinta alam, Munarman belajar satu prinsip: kalau tersesat di hutan, jangan terus berjalan ke segala arah. Kuncinya adalah kembali ke titik nol.
“Dalam ketatanegaraan, titik nol itu tersedia melalui mekanisme konstitusional Pasal 37 UUD, yaitu perubahan UUD melalui MPR. Kalau ada kemauan politik, MPR dapat meninjau kembali konstitusi. Bahkan menurut saya, apabila terdapat dukungan politik yang sangat kuat, Presiden juga dapat mengambil langkah seperti Dekret 5 Juli 1959 untuk mengembalikan konstitusi kepada ruh awalnya,” pungkasnya. []





