LAPSUS

Narendra Modi Gunakan Meriam untuk Bunuh Kecoak

Akun parodi yang dibuat para mahasiswa telah mengguncang orang paling berkuasa di India dan memperlihatkan betapa tipis kulitnya saat ini.

Privasinya dilanggar secara fatal setelah alamat rumah dan nomor telepon pribadinya disebarluaskan secara paksa ke publik.

Puncak dari teror digital tersebut adalah pemblokiran akun Instagram miliknya secara sepihak.

Ketika dipaksa berhadapan dengan pemikiran yang bebas, baik melalui CJP di dunia maya maupun pers independen di Norwegia, Modi beserta aparat pemerintahan dan basis pendukung daringnya tampak mengalami guncangan psikologis yang hebat.

Mereka kemudian memberikan reaksi defensif yang sangat kekanak-kanakan, persis seperti seorang balita yang sedang mengamuk di lorong cokelat sebuah supermarket.

Sebuah rezim yang terbukti begitu takut pada pertanyaan sederhana atau sekadar cuitan lelucon dari anak muda sebenarnya tidak memberikan banyak informasi mengenai profil si penanya itu sendiri.

Sebaliknya, ketakutan yang berlebihan itu justru mengungkap borok terdalam dari struktur mental pemerintah yang sedang berkuasa.

Pada kenyataannya, citra buatan yang selama ini dipertahankan oleh mesin propaganda negara perlahan mulai terkikis oleh berbagai peristiwa dunia.

Serangkaian krisis seperti perang, inflasi, pembatasan visa H-1B, dan penerapan tarif baru oleh Amerika Serikat telah menelanjangi ketidakmampuan Modi dalam memimpin.

Rentetan kegagalan tersebut pada akhirnya membuat sang perdana menteri menjadi individu yang semakin sensitif terhadap segala bentuk kritik.

Beberapa tahun terakhir telah menjelma menjadi masa yang penuh dengan tragedi bagi bangsa ini.

Berbagai kebijakan kontroversial yang dicetuskan Modi telah sukses meninggalkan luka mendalam yang sulit disembuhkan bagi negara.

Rangkaian program seperti demonetisasi, pencabutan Pasal 370 di Kashmir, serta karut-marut penanganan pandemi COVID-19 mungkin tercatat sebagai kegagalan terbesar dalam sejarah pemerintahannya.

Namun, rentetan kegagalan struktural sehari-hari justru jauh lebih efektif dalam mengguncang stabilitas mental generasi muda.

Kegagalan harian tersebut mencakup insiden jembatan yang runtuh, komunitas rentan yang kehabisan air bersih, hingga kebocoran soal ujian yang merusak langsung masa depan akademik siswa.

Semua insiden memilukan itu dengan jelas mencerminkan sejauh mana pemerintah saat ini telah gagal total dalam memenuhi kebutuhan mendasar rakyat biasa.

Meskipun rentetan kegagalan itu terus dibungkus dengan kampanye publisitas yang sangat mahal, hilangnya harapan secara masif di India kini semakin sulit untuk disembunyikan dari pandangan dunia.

Setiap bangsa mutlak membutuhkan tingkat kesejahteraan tertentu, harapan yang nyata, serta keyakinan kolektif terhadap masa depan yang lebih baik.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button