Narendra Modi Gunakan Meriam untuk Bunuh Kecoak
Akun parodi yang dibuat para mahasiswa telah mengguncang orang paling berkuasa di India dan memperlihatkan betapa tipis kulitnya saat ini.
Ironisnya, saat ini rakyat India terpaksa hidup di sebuah negara dengan kondisi mayoritas penduduk yang tidak lagi percaya pada kata-kata perdana menteri.
Modi saat ini sedang berada pada titik popularitas terendah sepanjang karier politiknya karena memimpin sebuah pemerintahan yang pada dasarnya tidak lagi memiliki mandat yang kuat.
Legitimasi itu memudar karena dua hasil pemilu terakhir terus dipersoalkan secara kritis oleh partai oposisi, kalangan jurnalis, dan para aktivis transparansi.
Akibat kemunduran demokrasi yang sistematis tersebut, dunia internasional kini bahkan telah mulai menyebut India sebagai sebuah “otokrasi elektoral”.
Pada titik yang nadir ini, Partai Bharatiya Janata (BJP) hanyalah sebuah mesin pemenang pemilu yang sama sekali tidak memiliki kapasitas untuk menjalankan bentuk kerja politik lainnya.
Apalagi, untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang terampil, transparan, dan akuntabel bagi rakyatnya.
Akibat kondisi psikologis yang goyah, setiap meme, cuitan lelucon, atau pertanyaan tajam dari jurnalis seolah menjelma menjadi jarum yang menusuk balon raksasa harga diri Modi.
Perasaan gelisah yang terus membayangi akhirnya membuat sang pemimpin beserta para birokratnya makin sering mengeluarkan pernyataan publik yang sama sekali tidak koheren.
Bahkan, rentetan pernyataan bermasalah itu kini menjadi sangat sulit untuk dipoles atau diperbaiki oleh para pendukung fanatiknya agar tampak pantas di mata publik.
Padahal, kritik yang dibungkus dalam bentuk satire telah lama diakui sebagai katup pengaman yang penting dalam ekosistem demokrasi yang sehat.
Tindakan represif dalam menekan keluhan generasi muda India dipastikan tidak akan mampu menghilangkan perbedaan pendapat secara permanen.
Sebaliknya, pembungkaman suara kritis tersebut justru hanya akan menjadi bahan bakar yang efektif untuk meradikalkan pemikiran mereka di masa depan.
Pemerintah memang memiliki alasan historis yang kuat untuk merasa sangat khawatir terhadap fenomena perlawanan digital ini.
Pasalnya, sejumlah rezim otoriter di kawasan Asia Selatan terbukti pernah tumbang tak berdaya setelah diterjang oleh gelombang protes Generasi Z yang pada awalnya juga tampak tidak berbahaya seperti CJP.
Satu-satunya hal yang bisa dianggap sebagai hiburan dalam situasi politik yang suram ini adalah fakta bahwa masa-masa mabuk kemenangan Modi kini telah sepenuhnya menguap.
Di tengah berbagai hambatan sistematis yang berusaha menghalanginya, gerakan perlawanan satir seperti CJP secara mengejutkan tetap mampu berkembang pesat.
Secara paralel, bentuk-bentuk penyampaian perbedaan pendapat kreatif lainnya juga terbukti masih tetap hidup dan menyala.
Periode ketiga kepemimpinan ini memiliki nuansa yang sangat berbeda dengan dua periode pemerintahan sebelumnya yang sering kali masih dianggap sementara serta cukup ringan untuk dijalani.
Masa jabatan kali ini, yang besar kemungkinan akan menjadi masa bakti terakhirnya sebagai perdana menteri, kini sudah mulai terasa jauh lebih berat dan dipenuhi gejolak.
Suatu hari nanti, dalam waktu yang mungkin tidak akan terlalu lama lagi, rezim pemerintahannya dipastikan akan jatuh.
Sementara itu, para “kecoak” India yang mewakili suara kritis generasi muda justru akan tetap tangguh bertahan hidup melintasi zaman. []
Sumber: Al Jazeera






