LAPSUS

Narendra Modi Gunakan Meriam untuk Bunuh Kecoak

Akun parodi yang dibuat para mahasiswa telah mengguncang orang paling berkuasa di India dan memperlihatkan betapa tipis kulitnya saat ini.

Modi memerintah India layaknya seorang mandor yang keras, sehingga setiap tugas dari negara sekaligus menjelma menjadi ujian kesetiaan.

Perintah terbarunya kepada rakyat meliputi arahan untuk bekerja dari rumah, menghindari perjalanan luar negeri, serta tidak menggunakan bahan bakar secara berlebihan.

Rakyat juga dituntut untuk mengurangi konsumsi minyak goreng, menahan diri dari membeli emas, bekerja lebih lama, mengonsumsi lebih sedikit barang, dan senantiasa bersabar.

Pada titik ini, pemerintahan Modi akan menganggap Anda hidup dalam kemewahan berlebihan jika Anda memiliki pekerjaan, lemari es, pendingin udara, dan akses bepergian ke luar negeri.

Semua tuntutan itu mungkin tidak akan terlalu menyakitkan seandainya Modi tidak langsung terbang ke Eropa setelah berkhotbah tentang kewajiban patriotik untuk mengencangkan ikat pinggang.

Dalam perjalanannya kali ini, Modi melakukan tur ke berbagai negara Eropa sambil secara konsisten menolak berinteraksi dengan pers bebas di benua tersebut.

Di Norwegia, jurnalis Helle Lyng Svendsen dengan berani bertanya mengenai alasan Modi tidak mau menerima pertanyaan dari “pers paling bebas di dunia”.

Modi merespons hal tersebut dengan menghindari kontak mata dan berlalu begitu saja tanpa memberikan jawaban apa pun.

Bahasa tubuh sang perdana menteri pada momen tersebut tampak sangat canggung dan sama sekali tidak percaya diri.

Bagi masyarakat yang menyaksikan peristiwa itu dari India, keberanian seseorang dalam meneriakkan pertanyaan langsung kepada Modi terasa sangat aneh dan tidak biasa.

Setelah 13 tahun bungkamnya kebebasan, melihat seorang jurnalis mengajukan pertanyaan sederhana dan mengharapkan jawaban terasa seperti menyaksikan penemuan spesies baru yang mampu bernapas di bawah air.

Pemandangan tersebut menghadirkan perasaan yang sangat menyegarkan sekaligus amat memalukan bagi citra demokrasi India.

Fakta bahwa Norwegia berada di peringkat pertama dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia, sementara India tertinggal jauh di peringkat ke-157, semakin memperburuk situasi.

Kedutaan Besar India di Oslo kemudian menggunakan platform X untuk mengumumkan sebuah konferensi pers yang tampaknya digelar sebagai bentuk balasan.

Dalam konferensi pers itu, diplomat Sibi George melontarkan pidato selama 13 menit yang penuh dengan jawaban klise terhadap hampir semua pertanyaan mengenai kemunduran kebebasan di India.

Pidato tersebut hanya dipenuhi oleh rangkaian kata kebanggaan kosong seperti “1,4 miliar penduduk”, “peradaban berusia 5.000 tahun”, “yoga”, dan “Gandhi”.

Bagi Svendsen, pengalaman interaksi tersebut pada akhirnya membawanya langsung pada realitas pahit yang selama ini terus dihadapi oleh insan pers India.

Ia seketika dituduh sebagai mata-mata asing dan langsung menjadi sasaran empuk serangan siber dari kelompok pendengung (troll) sayap kanan India.

Laman sebelumnya 1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button