NUIM HIDAYAT

Nikmatnya Berislam

Jadi, ketika hati bahagia, maka bahagialah seluruh tubuh kita. Bahagia yang paling mendalam adalah bahagia ketika mengingat Allah Subhanahu wa Taala.

Seruan azan ‘hayya alal falah’ bisa dimaknai sebagai ajakan marilah menuju kebahagiaan. Kebahagiaan di dalam salat adalah kebahagiaan tertinggi manusia.

Kita merasakan nikmatnya salat ketika kita menjalaninya dengan khusyuk. Kenikmatan itu juga hadir ketika kita memahami bacaan-bacaan yang kita baca dalam salat.

Sulit bagi kita untuk khusyuk kalau kita tidak memahami bacaan yang kita baca dalam salat. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengingatkan:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hati yang bersih akan merasakan kenikmatan dalam menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan hati yang kotor akan membuat perilakunya menjadi kotor bahkan biadab.

Lihatlah hati para pemimpin Israel dan Amerika yang kotor. Meski mereka telah membunuh ratusan ribu manusia, mereka tidak merasa bersalah ataupun menyesal.

Mereka tetap tertawa-tawa yang menunjukkan bahwa hati mereka telah kotor. Bila hati kotor, maka yang baik akan dianggap buruk dan yang buruk akan dianggap baik.

Maka, jangan heran apabila mereka mabuk dan bernyanyi-nyanyi setelah membunuh banyak manusia. Al-Qur’an mengingatkan dalam QS. Asy-Syams ayat 9–10:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

Bila dosa besar terus dilakukan dan tidak bertobat, maka hati menjadi kotor dan menghitam. Hati tersebut tidak bisa lagi menjadi cermin yang memantulkan kebenaran.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7Laman berikutnya
Back to top button