Nilai Sejati Seorang Manusia
Imam Abu Hayan mengatakan—sebagaimana dikutip oleh Syaikh Wahbah al-Zuhaili—ayat ini menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terbatas pada dua tujuan ini: ilmu dan amal. Maka sebagaimana tidak sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui, demikian pula tidak sama antara orang yang taat dan orang yang durhaka. Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang mengantarkan kepada pengenalan kepada Allah dan menyelamatkan seorang hamba dari kemurkaan-Nya.
Ilmu yang Wajib Dituntut
Berdasarkan apa yang dikatakan oleh Abu Hayyan di atas, kewajiban setiap Muslim dalam menuntut ilmu tidaklah mencakup seluruh ilmu pengetahuan yang ada. Tidak semua ilmu wajib dipelajari, sebab mustahil setiap orang dapat menguasai semua ilmu yang berkembang pada masanya—sebagaimana dikatakan oleh Al-Mawardi dalam Adab al-Dunyā wa al-Dīn. Ilmu yang wajib dituntut adalah ilmu yang berkaitan dengan aktivitas yang akan segera dilakukan.
Artinya, seseorang yang hendak melaksanakan salat terlebih dahulu wajib mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan salat, seperti thaharah sebagai salah satu syarat sah salat, syarat-syarat, rukun-rukun, hal-hal yang membatalkan salat, serta perkara-perkara yang dianjurkan dan dimakruhkan di dalamnya. Demikian pula seseorang yang hendak melaksanakan puasa, zakat, dan haji. Bahkan seseorang yang akan masuk Islam terlebih dahulu dijelaskan makna Dua Kalimat Syahadat. Ia harus mengetahui ilmu-ilmu yang berkaitan dengan ibadah tersebut.
Ilmu yang berkaitan dengan ibadah ini disebut ilmu fikih. Tidak hanya membahas perihal ibadah saja, Ilmu fikih juga membahasa hubungan manusia dengan sesamanya yang disebut dengan fikih muamalah. Dalam hal ini Syaikh Abdullah bin al-Husain dalam Sullam al-Taufīq mengatakan, “wajib bagi setiap orang Islam untuk tidak melakukan atau memasuki suatu perkara sebelum ia mengetahui apakah Allah menghalalkannya atau mengharamkannya.” Fikih muamalah berkaitan erat dengan halal dan haram yang akan dilakukan dan dikonsumsi oleh umat Islam.
Dua Kalimat Syahadat, sebagai salah satu rukun Islam, memiliki makna bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Swt, dan bahwa Nabi Muhammad Saw. utusan-Nya. Ilmu yang membahas makna dua kalimat ini adalah ilmu tauhid. Ilmu tauhid adalah ilmu yang tujuannya, antara lain, adalah mensucikan atau memurnikan Allah Swt. dari segala sesuatu yang dapat dibayangkan oleh pemahaman, atau yang dapat terlintas dalam khayalan dan pikiran manusia. Ilmu Tauhid juga biasa disebut dengan usuluddin dan ilmu kalam.
Manusia adalah makhluk sosial. Baik atau buruknya hubungan sosial tergantung pada baik atau buruknya perilaku manusia. Manusia bukanlah makhluk yang berdiri sendiri, yang terlepas dari berbagai eksistensi lain dan lingkungan. Manusia adalah makhluk yang senantiasa membutuhkan Tuhan. Manusia terbatas dengan ruang dan waktu yang dengannya ia tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya. Agar hubungan dengan Tuhan, sesama manusian, dan lingkungannya menjadi baik lahirlah ilmu akhlak.
Ilmu akhlak mengajarkan agar manusia hidup dengan sopan santun yang baik kepada Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan, sehinggan dengan demikian dapat diperolah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Ilmu akhlak yang dimaksud di sini bukanlah ilmu yang berdasarkan pada pikiran-pikiran filsafat yang membingungkan dan tidak pasti. Ilmu akhlak di sini di dasarkan pada dua sumber yang pasti akan kebenerannya, yaitu firman Allah Swt. dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw.
Dengan demikian, terdapat tiga ilmu yang wajib dituntut dan dipelajari oleh setiap orang Islam, yaitu ilmu fikih, ilmu tauhid, dan ilmu akhlak. Jika ditanya mana di antara tiga ilmu itu yang paling utama dan terlebih dahulu dipelajari? Jawabannya tiga ilmu ini saling terkait satu sama lain, sehingga dengan demikian ia paling utama untuk dipelajari sebelum ilmu-ilmu yang lain, termasuk ilmu yang berkaitan dengan keahlian.
Penutup
Dengan demikian, nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh penampilan lahiriah atau jasad semata, melainkan oleh apa yang mengisi dirinya. Ilmu, iman, dan amal saleh adalah “isi” yang menjadikan manusia bernilai di hadapan Allah Swt. dan mulia di tengah manusia. Tanpa ketiganya, kehidupan manusia akan hampa dari makna, sebagaimana botol kosong yang tidak memiliki nilai tanpa isinya.
Karena itu, setiap orang Islam hendaknya bersungguh-sungguh mengisi kehidupannya dengan ilmu yang benar, terutama ilmu yang berkaitan dengan tauhid, fikih, dan akhlak. Dengan ilmu tersebut seseorang dapat mengenal Tuhannya, menjalankan ibadah dengan benar, serta berperilaku baik terhadap sesama. Jika ilmu itu disertai dengan iman yang kuat dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka derajat manusia akan diangkat oleh Allah Swt., baik di dunia maupun di akhirat.
Pulau Pandan jauh di tengah,
Di balik Pulau Angsa Dua;
Hancur badan dikandung tanah,
Budi baik dikenang jua.
Wallāhu a‘lam.
Zuhaili Zulfa, S.Pd., Guru Pendidikan Agama Islam, lulusan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.





