LAPSUS

Pengakuan Pekerja MBG: Nggak Manusiawi, Bekerja Setengah Rodi

Jakarta (SI Online) – Anggaran Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga baru yang dibentuk Presiden Prabowo Subianto untuk mengurus program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2025 ini mencapai Rp71 triliun.

Angka ini, pada tahun anggaran 2026 mendatang akan melonjak menjadi Rp217,8 triliun. Artinya pagu anggaran yang diterima BGN melampaui Kementerian Pertahanan yang sebesar Rp167,4 triliun dan Kepolisian Rp109,7 triliun.

Meski di atas kertas anggaran BGN nampak sangat jumbo, tetapi realitas di lapangan sungguh sangat memprihatinkan. Terutama terkait sistem kerja dan gaji yang diterima para petugas di lapangan.

Beragam keluhan disampaikan para pekerja, dari soal gaji yang dirapel hingga sistem kerja seperti kerja rodi, sistem kerja paksa yang diterapkan pemerintah kepada rakyat Nusantara di era kolonial Belanda dahulu.

Seperti dilansir BBC News Indonesia, sejumlah pekerja di dapur MBG mengaku bekerja tanpa kontrak tertulis, jam kerja yang tidak menentu, dan kini terlambat menerima gaji. Berikut sejumlah cerita pengakuan para pekerja MBG:

Merasa Tidak Manusiawi

Dani sudah hilang kesabaran. Sudah beberapa bulan terakhir, gajinya tak kunjung dibayarkan.

Pekerja di salah satu dapur MBG di Jawa Timur ini lantas mampir ke akun media sosial Instagram Badan Gizi Nasional (BGN) dan menulis komentar yang isinya meminta pemerintah membayar hasil keringatnya, secepatnya.

“Kami dituntut [bekerja] tidak boleh lengah sedikit pun, karena ini menyangkut banyak nyawa. Masak gaji aja terlambat?” ungkapnya penuh kesal.

Dani adalah satu dari ribuan lulusan program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Batch 3, yang sedianya bakal ditugaskan sebagai Kepala Program Makan Bergizi Gratis alias kepala dapur di sejumlah daerah.

Tapi, karena dapur di wilayahnya belum seluruhnya dibangun, Dani dipekerjakan sebagai pengawas dengan status “magang” di salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang telah beroperasi.

“Kami yang belum dapat dapur ini diarahkan untuk magang ke dapur terdekat wilayah kami. Walaupun pada praktiknya, enggak dekat, jauh dari lokasi tempat tinggal saya sekarang,” tuturnya.

Sebelum terjun ke dapur MBG, pria bergelar sarjana hukum di salah satu universitas negeri ini sempat menjalani pendidikan militer dasar selama satu bulan. Ia digembleng agar patuh pada perintah atasan dan siap bekerja 1×24 jam.

1 2 3 4Laman berikutnya
Back to top button