Prinsip dan Adab Bertetangga dalam Islam
Jamaah salat Jum’at yang berbahagia!
Menarik untuk diperhatikan bahwa dalam Surah An-Nisā’ ayat tersebut, Allah memulai dengan firman-Nya: وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا — “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.” Hal ini memberikan pesan yang mendalam bahwa seluruh perintah dan larangan Allah dalam lanjutan ayat tersebut—termasuk perintah untuk berbuat baik kepada tetangga—harus berlandaskan pada keimanan kepada Allah SWT Artinya, setiap kebaikan yang kita lakukan dan setiap keburukan yang kita hindari hendaknya dilakukan dengan niat yang tulus dan ikhlas karena Allah SWT, bukan karena pamrih atau kepentingan duniawi.
Selanjutnya, ayat tersebut juga memberikan pesan bahwa berbuat baik kepada tetangga merupakan salah satu buah dari keimanan seorang muslim. Hal ini sebagaimana disabdakan oleh Nabi Saw., yang diriwatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim:
مَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جارَهُ
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bersikap baik kepada tetangganya.
Dengan demikian, keimanan seorang muslim dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan tetangganya. Jika ia baik terhadap tetangga keimanannya pasti juga baik.
Jamaah salat Jum’at yang berbahagia!
Prinsip bertetangga dalam Islam adalah menjalin hubungan sosial sesuai dengan norma-norma pergaulan yang berlaku di masyarakat selama tidak bertentangan dengan syariat Islam, serta menunaikan hak-hak yang seharusnya diterima oleh tetangga. Dengan kata lain, pergaulan antar tetangga hendaknya dilakukan secara ma‘ruf — yakni dengan cara yang baik, santun, dan sesuai dengan ajaran Islam.
Nabi Saw. memberikan panduan dalam bertetangga dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari.
اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya.”
لا يؤْمِنُ أحَدُكم حتى يُحِبَّ لأخيه ما يُحِبُّ لنفْسِه
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
Berdasarkan dua hadis di atas, dalam bertetangga umat Islam harus mengedepankan sikap yang memberikan rasa aman kepada tetangga, serta menumbuhkan rasa cinta dan keinginan kebaikan bagi orang lain sebagaimana kita menginginkannya bagi diri sendiri. Inilah prinsip yang harus dipegang dalam kehidupan bermasyarakat, agar tercipta keharmonisan, kedamaian, dan kerukunan di antara sesama.
Jamaah salat Jum’at yang berbahagia!
Marilah kita renungkan kembali betapa pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Kebaikan yang kita tebarkan kepada mereka bukan hanya akan menciptakan ketenteraman di lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi cerminan keimanan dan akhlak kita sebagai umat Islam. Janganlah kita menjadi sebab terpecahnya ukhuwah, tetapi jadilah sumber kedamaian, penyejuk hati, dan penebar kasih sayang bagi siapa pun di sekitar kita.
Semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memelihara lisan, menahan tangan dari menyakiti, serta senantiasa berbuat ihsan kepada sesama. Dengan demikian, lingkungan kita akan dipenuhi keberkahan, ketenteraman, dan kasih sayang sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah Saw.
اَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّه هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
***






