MASAIL FIQHIYAH

Puasa di Bulan Rajab: Anjuran, Batasan, dan Sikap Proporsional

Menurut syariat Islam, puasa yang diwajibkan adalah puasa pada bulan Ramadan. Meskipun demikian, seorang muslim tidak sepatutnya membatasi pelaksanaan puasanya hanya pada puasa wajib semata.

Umat Islam juga dianjurkan untuk melaksanakan puasa-puasa sunah pada hari-hari yang terdapat riwayat yang menganjurkan untuk berpuasa.

Hari-hari yang dianjurkan (sunah) untuk berpuasa di antaranya ada yang disepakati oleh para ulama dan ada pula yang diperselisihkan.

Puasa sunah yang disepakati antara lain adalah puasa ‘Āsyūrā’, meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara pelaksanaannya. Adapun puasa sunah yang diperselisihkan hukumnya antara lain puasa pada hari ‘Arafah, puasa enam hari di bulan Syawal setelah tanggal satu, serta puasa Ayyām al-Bī (tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah).

Baca juga: Meneladani Rasulullah Saw dan Relevansinya dalam Amalan Bulan Rajab

Para ulama juga membahas hukum berpuasa pada bulan-bulan haram (al-asyhur al-urum), yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Menurut sebagian besar ulama, pada bulan-bulan tersebut dianjurkan untuk memperbanyak puasa. Anjuran ini didasarkan pada riwayat yang disampaikan oleh Imam Abū Dāwūd, Ibnu Mājah, Aḥmad, dan al-Baihaqī, sebagai berikut:

عن مُجيبةَ الباهِليَّةِ، عن أبيها أو عمِّها: “أنَّه أتى النَّبيَّ ﷺ، ثُمَّ انْطَلَقَ، فأتاه بَعْدَ سَنةٍ، وقد تَغَيَّرَتْ حالُه وهَيْئتُه، فقالَ: يا رَسولَ اللهِ، أَما تَعرِفُني؟ قالَ: ومَن أنت؟ قالَ: أنا الباهِليُّ الَّذي جِئْتُك عامَ الأوَّلِ، قالَ: فما غَيَّرَك، وقد كُنْتَ حَسَنَ الهَيْئةِ؟ قالَ: ما أَكَلْتُ طَعامًا مُنْذُ فارَقْتُك، فقالَ رَسولُ اللهِ ﷺ: لم عَذَّبْتَ نفْسَك؟ ثُمَّ قالَ: صُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ ويَوْمًا مِن كلِّ شَهْرٍ، قالَ: زِدْني؛ فإنَّ بي قُوَّةً، قالَ: صُمْ يَوْمَينِ، قالَ: زِدْني، قالَ: صُمْ ثَلاثةَ أيّامٍ، قالَ: زِدْني، قالَ: صُمْ مِن الحُرُمِ واتْرُكْ، صُمْ مِن الحُرُمِ واتْرُكْ، صُمْ مِن الحُرُمِ واتْرُكْ، -وقالَ بأصابِعِه الثَّلاثةِ- فضَمَّها، ثُمَّ أَرسَلَها.

“Dari Mujibah al-Bahiliyyah, dari ayahnya atau pamannya, bahwa ia datang kepada Rasulullah Saw. kemudian pergi. Setelah satu tahun ia datang kembali menemui beliau, sementara keadaan dan penampilannya telah berubah. Rasulullah Saw. bersabda, “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengenaliku?” Beliau bertanya, “Siapakah engkau?” Ia menjawab, “Aku adalah al-Bahili yang datang kepadamu tahun lalu.” Beliau bersabda, “Apa yang mengubahmu, padahal dahulu engkau berpenampilan baik?” Ia menjawab, “Aku tidak makan makanan apa pun kecuali pada malam hari sejak aku berpisah denganmu.” Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Mengapa engkau menyiksa dirimu?” Kemudian beliau bersabda, “Berpuasalah pada bulan kesabaran (Ramadan) dan satu hari setiap bulan.” Ia berkata, “Tambahkanlah untukku, karena aku memiliki kekuatan.” Beliau bersabda, “Berpuasalah dua hari.” Ia berkata, “Tambahkan lagi.” Beliau bersabda, “Berpuasalah tiga hari.” Ia berkata, “Tambahkan lagi.” Beliau bersabda, “Berpuasalah pada bulan-bulan haram dan berbukalah; berpuasalah pada bulan-bulan haram dan berbukalah; berpuasalah pada bulan-bulan haram dan berbukalah.” Beliau mengucapkannya sambil mengisyaratkan dengan tiga jarinya, lalu merapatkannya kemudian melepaskannya.”

Sebagian ulama menilai hadis tersebut berstatus lemah. Meskipun demikian, seorang muslim tidak semestinya meremehkan amalan kebaikan yang bersumber dari riwayat lemah, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip akidah dan syariat yang bersifat pasti, serta tidak berstatus palsu (maudū‘). Selain itu, para ulama juga membolehkan pengamalan hadis a‘īf dalam ranah faā’il al-a‘māl, dengan syarat tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip pokok ajaran Islam dan tidak berstatus palsu.

Dengan demikian, memperbanyak puasa di bulan-bulan haram merupakan salah satu anjuran Nabi Saw. Hal ini ditegaskan oleh para ulama, seperti Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Bidāyah al-Hidāyah.

Dalam konteks bulan Rajab, berbeda dengan puasa enam hari di bulan Syawal, puasa ‘Āsyūrā’, atau puasa Ayyām al-Bī yang memiliki tuntunan dan keutamaan khusus, tidak terdapat dalil sahih yang menetapkan keutamaan khusus berpuasa pada bulan Rajab. Sayyid Sābiq dalam karyanya Fiqh al-Sunnah menyatakan:

“Puasa di bulan Rajab tidak memiliki keutamaan tambahan dibandingkan bulan-bulan lainnya, kecuali karena ia termasuk bulan-bulan haram. Tidak terdapat dalam sunnah yang sahih keterangan bahwa puasa di bulan tersebut memiliki keutamaan khusus, dan apa yang diriwayatkan tentang hal itu tidak cukup kuat untuk dijadikan hujah.”

1 2Laman berikutnya
Back to top button