KHOTBAH

Takwa Holistik: Jalan Perubahan Diri, Pemimpin, dan Masyarakat

Namun, Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Kita juga tidak boleh menjadikan pembicaraan tentang krisis akhlak hanya sebagai kritik terhadap para pemimpin. Sebab, kita semua adalah pemimpin dalam lingkup masing-masing. Rasulullah saw. bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”

Pemimpin memiliki amanah terhadap masyarakatnya, guru memiliki amanah terhadap muridnya, dan seorang suami memiliki amanah terhadap keluarganya. Bahkan, setiap manusia memiliki amanah terhadap dirinya sendiri. Maka, ketika kita menginginkan pemimpin yang jujur dan amanah, kita juga harus belajar membiasakan diri menjaga kejujuran dan amanah tersebut.

Ketika kita menginginkan pemimpin yang adil, kita harus belajar berlaku adil kepada keluarga, tetangga, teman, dan orang-orang yang berbeda dengan kita. Jangan sampai kita mencela kebohongan seorang pemimpin, tetapi kita sendiri terbiasa berdusta. Jangan sampai kita marah terhadap korupsi, tetapi menganggap remeh tindakan mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Jangan pula kita menuntut keadilan dari orang lain, tetapi tidak mampu berlaku adil ketika kepentingan kita sendiri terganggu. Perubahan akhlak bangsa harus dimulai dari perubahan manusia, dan perubahan manusia harus dimulai dari hati. Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Jamaah Salat Jum’at yang Dirahmati Allah,

Imam Al-Ghazali menyebut beberapa penyakit hati yang dapat menjadi sumber lahirnya akhlak buruk. Di antaranya adalah panjang angan-angan terhadap dunia, tergesa-gesa, iri dengki, dan kesombongan. Penyakit pertama adalah panjang angan-angan, di mana manusia terlalu berharap panjang terhadap kehidupan dunia seolah-olah akan berlangsung selamanya.

Akibatnya, ia mengejar harta tanpa batas, mengejar kedudukan tanpa merasa cukup, dan mempertahankan kekuasaan seakan-akan jabatan itu akan dibawanya sampai mati. Padahal, jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan popularitas akan hilang. Yang akan mengikuti kita ke hadapan Allah hanyalah amal.

Penyakit kedua adalah tergesa-gesa. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan emosi dan reaksi spontan. Tergesa-gesa membuat manusia mudah mengambil keputusan tanpa pertimbangan, mudah menyebarkan informasi tanpa memeriksa kebenarannya, dan mudah menghakimi orang lain tanpa mengetahui persoalan secara utuh.

Penyakit ketiga adalah iri dan dengki. Ketika hati tidak mampu menerima kelebihan orang lain, keberhasilan orang lain terasa sebagai kegagalan bagi dirinya. Dari sinilah lahir kebencian, fitnah, permusuhan, bahkan berbagai upaya untuk menjatuhkan sesama.

Penyakit keempat adalah kesombongan. Inilah penyakit yang sangat berbahaya bagi siapa pun, terlebih bagi orang yang memiliki kekuasaan. Kesombongan membuat seseorang sulit menerima nasihat, tidak mau mengakui kesalahan, dan merasa dirinya selalu lebih benar daripada orang lain.

Laman sebelumnya 1 2 3Laman berikutnya
Back to top button