Tips Buat Ortu Mengubah Gawai dari Musuh Menjadi Kawan
Bagi kita yang kini berada di rentang usia 40 hingga 60 tahun, perkembangan teknologi seringkali terasa seperti kilat yang menyambar.
Kita besar di zaman ketika komunikasi dilakukan lewat surat atau telepon kabel, sementara anak dan cucu kita lahir dengan gawai di genggaman.
Tak jarang, fenomena ini menimbulkan kecemasan. Kita takut teknologi menjauhkan anak dari keluarga, merusak moral, atau bahkan membuat mereka kecanduan.
Namun, mengunci gawai dalam lemari atau melarang total penggunaannya bukanlah solusi yang bijak di masa sekarang.
Saat ini, kita perlu beralih ke konsep yang disebut dengan Digital Parenting Sadar atau pengasuhan digital yang berkesadaran. Intinya sederhana: jangan jadikan teknologi sebagai musuh yang ditakuti, melainkan alat kolaboratif untuk mempererat hubungan dan meningkatkan kualitas hidup anak.
Menghapus Sekat “Gaptek”
Langkah pertama dalam pengasuhan digital adalah membuang jauh-jauh rasa minder atau sebutan “gaptek” (gagap teknologi). Kita tidak perlu menjadi ahli komputer, namun kita wajib tahu apa yang sedang tren di dunia digital anak-anak kita. Mengapa? Karena kita tidak bisa membimbing di medan yang tidak kita kenali.
Alih-alih memarahi anak saat mereka asyik dengan ponselnya, cobalah sesekali duduk di samping mereka. Tanyakan dengan lembut, “Apa yang sedang kamu tonton?” atau “Permainan ini cara mainnya bagaimana?”
Dengan menunjukkan ketertarikan yang tulus, kita sedang membangun jembatan komunikasi. Teknologi di sini berfungsi sebagai pembuka percakapan, bukan penghalang.
Menjadikan Gawai Sebagai Alat Kolaborasi
Teknologi harus dipandang sebagai alat bantu, sama seperti pisau di dapur. Jika digunakan dengan benar, ia menghasilkan hidangan lezat; jika salah, ia bisa melukai. Dalam keluarga, gawai bisa menjadi alat kolaborasi yang sangat menyenangkan.
Misalnya, jika anak senang memasak, ajaklah mereka mencari resep baru di internet, lalu praktikkan bersama di dapur. Jika anak senang menggambar, kenalkan mereka pada aplikasi desain digital.
Di sini, orang tua berperan sebagai pengarah nilai (value) sementara anak memegang kendali teknis. Kolaborasi semacam ini menciptakan memori kolektif yang positif, sehingga anak merasa didukung, bukan sekadar diawasi.
Ads: Untuk mengetahui lebih lanjut tentang Poltek Kesehatan kunjungi poltekkesbandung.org
Mengajarkan Etika dan Keamanan Digital
Dunia digital adalah ruang publik yang luas dan tanpa batas. Sebagai orang tua yang lebih berpengalaman dalam urusan hidup, peran kita adalah mengajarkan “tata krama” atau etika. Istilah kerennya adalah Digital Literacy atau literasi digital.
Ajarkan anak bahwa apa yang kita tulis di media sosial sama dampaknya dengan apa yang kita ucapkan secara langsung. Beritahu mereka tentang bahaya membagikan data pribadi seperti alamat rumah atau nomor telepon kepada orang asing di internet.






