OPINI

Trump Ulangi Semua Kesalahan AS di Afghanistan

Permusuhan Trump terhadap negara-negara tetangga yang lebih lemah seperti Venezuela, Kuba, Kolombia, Panama, dan bahkan Greenland juga mencerminkan pola “forever war“.

Akar sikap itu terletak pada mitos lama bahwa Amerika Serikat memiliki misi khusus sekaligus hak untuk mengawasi Belahan Barat, sebuah pandangan yang kemudian diperluas hingga mencakup seluruh dunia.

Begitu pula dengan keserakahan. Meninggalkan retorika tentang penyebaran demokrasi, Trump kini lebih mengejar dominasi ekonomi sekaligus geopolitik.

Ia mencoba memperoleh keuntungan finansial dari perang di Ukraina maupun Gaza. Perhatiannya terhadap Selat Hormuz menunjukkan bahwa kebijakan keamanan hampir selalu berkaitan erat dengan kepentingan ekonomi dan perdagangan.

Ketiadaan mediasi dan pasukan penjaga perdamaian PBB yang efektif, melemahnya diplomasi Amerika Serikat—yang semakin parah di bawah Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang sangat loyal kepada Trump—serta penolakan keras untuk menerima kenyataan militer, semuanya ikut menjadikan konflik-konflik yang dipimpin Amerika berubah menjadi rawa peperangan yang sulit diakhirinya.

Dalam kasus Trump, faktor ego juga sangat menentukan. Tampaknya ia lebih memilih membunuh ribuan warga sipil lagi, mengambil risiko melakukan kejahatan perang, membakar Timur Tengah, dan menghancurkan peluang elektoral Partai Republik, daripada mengakui bahwa dirinya keliru mengenai Iran.

Perilaku ekstrem seperti ini memperlihatkan sisi lain yang sangat berbahaya dari fenomena perang tanpa akhir. Kesia-siaannya pada dasarnya merupakan tindakan yang tidak bermoral. Dalam ketidakmasukakalannya, perang tanpa akhir melanggar hukum Tuhan maupun hukum manusia. Perang yang tidak pernah berakhir adalah kematian bagi harapan.

Kini, ketika Trump terus berubah-ubah dalam menghadapi Iran, semakin jelas bahwa ia menyadari jurang tanpa dasar yang kini berada tepat di depan Amerika Serikat akibat kebijakannya sendiri—namun ia sama sekali tidak tahu bagaimana menghindarinya.

Suatu hari ia berbicara mengenai perundingan. Keesokan harinya ia kembali melancarkan serangan besar-besaran yang mematikan.

Sementara itu, para garis keras Iran yang tidak peduli pada penderitaan rakyatnya justru menikmati kebingungan Trump. Mereka terus meningkatkan tekanan melalui serangan milisi di berbagai kawasan serta serangan drone dan rudal yang mengguncang perekonomian dunia.

Terjebak dalam labirin penyangkalan, Trump sia-sia mencoba membombardir jalan keluar dari krisis, sembari mati-matian mencari kesepakatan yang masih bisa dijual kepada publik sebagai sebuah kemenangan. Namun tidak satu pun dari dua pilihan itu akan berhasil.

Bencana berdarah di Iran ini telah menjadi penentu utama masa kepresidenan Trump. Noda darah, tanggung jawab, dan rasa malu akibat perang ini—kalaupun perangnya sendiri suatu hari berakhir—akan tetap membekas selamanya. []

*Simon Tisdall, Komentator urusan luar negeri The Guardian.

Sumber: The Guardian

Laman sebelumnya 1 2 3
BACA JUGA
Close
Back to top button