Trump Ulangi Semua Kesalahan AS di Afghanistan
Singkatnya, ketakutan sesaat tidak boleh mengaburkan ingatan mengenai biaya jangka panjang perang tanpa akhir—baik dari sisi kemanusiaan, keuangan, maupun geopolitik.
Jika perang Afghanistan dibangun di atas asumsi yang keliru, maka invasi ke Irak bahkan lebih buruk lagi. Klaim Presiden George W. Bush pada tahun 2002 bahwa rezim Saddam Hussein memiliki persediaan senjata kimia dan biologi siap pakai serta sedang mengembangkan bom nuklir, ternyata tidak benar.
Demikian pula tuduhan Wakil Presiden Dick Cheney bahwa Irak “membantu dan melindungi” Al-Qaeda juga terbukti tidak benar. Pendudukan Irak dan pemberontakan yang menyusul kemudian menjadi bagian dari perang yang lebih besar lagi, yakni “perang global melawan teror” versi Bush.
Menurut proyek Costs of War dari Brown University, sekitar 940.000 orang tewas akibat kekerasan langsung pasca-11 September di Irak, Afghanistan, Suriah, Yaman, dan Pakistan antara tahun 2001 hingga 2023. Selain itu, hingga 3,8 juta orang diperkirakan meninggal secara tidak langsung akibat dampak perang-perang tersebut.
Memang mudah menghakimi keputusan perang dan damai setelah semuanya berlalu. Yang jauh lebih sulit dimaafkan adalah manipulasi agenda politik, kepentingan militer dan bisnis, serta penyalahgunaan intelijen dan opini publik.
Namun benarkah ada perang yang benar-benar diluncurkan tanpa motif tersembunyi?
Film baru yang mengangkat epos Odyssey karya Homer menceritakan dampak dari Perang Troya yang berlangsung sepuluh tahun. Secara resmi perang itu dipicu oleh penculikan Helen dari Sparta. Namun secara lebih realistis, perang tersebut mungkin lebih berkaitan dengan kepentingan perdagangan daripada sekadar memperebutkan seorang perempuan cantik.
Begitu pula Amerika Serikat yang mengklaim berperang di Vietnam demi membela demokrasi dan menghentikan penyebaran komunisme melalui teori domino. Namun perang itu juga sangat berkaitan dengan keyakinan akan keistimewaan Amerika (American exceptionalism) dan ambisi mempertahankan hegemoni global.
Dalam hal ini, hampir tidak ada yang berubah. Apa lagi yang membuat para politisi Amerika terus mengambil risiko terjerumus ke dalam perang luar negeri yang mahal, sulit dikendalikan, dan biasanya berakhir dengan kekalahan? Jawabannya adalah ketidakamanan—atau rasa takut.
Seperti George W. Bush sebelumnya, Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sama-sama secara sadar membesar-besarkan ancaman Iran, seolah-olah ancaman itu sangat mendesak dan bersifat eksistensial.
Padahal, sebagaimana Irak pada tahun 2003, Iran tidak memiliki senjata nuklir, dan tidak ada bukti kuat bahwa negara itu sedang atau baru-baru ini berusaha memperolehnya.
Di sinilah muncul paradoks yang terus berulang: negara paling kuat di dunia justru kembali bertindak seolah-olah sedang dihantui bayang-bayang ancaman.






