Berbahagialah ‘Al-Ghuraba’, Mereka Saling Cinta karena Allah
Islam datang dalam keadaan terasing. Islam hadir ketika peradaban Romawi dan Persia telah lebih dahulu menguasai wilayah dunia. Kemudian Allah Swt menurunkan dan menyempurnakan Islam kepada Rasulullah saw untuk disampaikan ke seluruh umat manusia. Islam disampaikan ketika manusia diatur oleh aturan yang dibuat manusia, aturan kerajaan, dan aturan kekuasaan yang menyembah berhala, matahari, pohon dan lain-lain.
Islam dengan untuk mengajak manusia mentauhidkan Allah dan menerapkan aturan hidup dari Allah. Inilah yang menjadikan Islam terasing. Keterasingan ini membuat manusia sulit menerima Islam di kala itu. Ajaran Islam pertama kali diturunkan di kota Makkah, Arab Saudi. Rasulullah menerima wahyu dan berjuang menyampikan Islam bersama istri dan para sahabatnya yang telah dijanjikan surga oleh Allah Swt.
Perjuangan Rasulullah saw menyampaikan Islam sangat sulit, penuh rintangan dan tantangan yang mengancam jiwa. Setiap menyampaikan ajaran Islam, Rasulullah dimusuhi, dipersekusi, bahkan diancam dibunuh oleh penduduk Makkah dan berbagai suku dan bangsa.
Pun demikian ajaran Islam sebagaimana yang diajarkan Rasulullah saw saat ini dianggap tidak relevan dengan kehidupan sekarang, kuno dan ketinggalan. Dan orang-orang yang memegang teguh tali agama Allah adalah orang-orang asing yang tetap menyampaikan kebaikan terhadap apa-apa yang rusak.
Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Rasulllah saw bersabda: “Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulanya. Maka berbahagialah orang orang yang terasing (Al-Ghuraba) tersebut.”
Ad-Darimi, Ibnu Majah Ibnu Abu Syaibah, Al-Bazar, Abu Ya’la dan Ahmad, mereka telah meriwayatkan suatu hadist dengan perawi yang terpercaya. Lafadz hadits versi Ahmad dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata Rasulullah bersabda:
“Sesunguhnya Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah Al-Ghuraba. Dikatakan kepada beliau, siapa Al-ghuraba itu? Rasulullah saw bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah.”
Inilah beberapa sifat orang-orang yang terasing. Pertama, mereka melakukan perbaikan ketika manusia sudah rusak, mereka nasihat-menasihati dalam kebaikan, mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Manusia hari ini jauh dari kehidupan Islam. Kerusakan di semua sistem akibat Islam tidak dijadikan aqidah yang sahih dalam kehidupan. Islam tidak dijadikan sebagai pengatur urusan umat melainkan hanya sebagai agama ritual.
Sistem sekuler yang menjauhkan agama dari kehidupan membuat manusia secara individu, keluarga, masyarakat bahkan negara tatanan yang harusnya kokoh menjadi rapuh di seluruh lini kehidupan. Misalnya, sektor pendidikan yang tidak berlandaskan akidah Islam, sering berganti kurikulum yang membingungkan. Pelayanan kesehatan tidak berpihak pada orang miskin (orang miskin dilarang sakit).
Sistem ekonomi berbasis ribawi dan tidak sesuai disyariatkandalam Islam. Politik yang dijalankan politik kotor dan manipulatif. Keamanan tidak berpihak kepada umat Islam, banyak saudara muslim terbunuh tanpa hak. Kondisi ini adalah kerusakan nyata di depan mata. Orang-orang terasing mengingatkan manusia untuk memperbaiki keadaan dengan berhukum pada Allah Swt.
Kedua, orangnya sedikit. Ahmad dari Thabrani dari Abdullah bin Amru, ia berkata pada suatu hari saat matahari terbit aku berada di dekat Rasulullah saw, lalu ia bersabda:
“Akan datang suatu kaum pada hari kiamat kelak. Cahaya mereka bagaikan cahaya matahari.” Abu Bakar berkata, “Apakah mereka itu kami, Ya Rasulullah? Rasulullah bersabda, “Bukan, dan khusus untuk kalian ada kebaikan yang banyak. Mereka adalah orang-orang yang fakir dan orang orang yang berhijrah yang berkumpul dari seluruh pelosok bumi.” Kemudian beliau bersabda, “Kebahagian bagi orang-orang yang terasing”. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah orang orang yang terasing itu?” Beliau saw bersabda, “Mereka adalah orang-orang saleh di antara kebanyakan manusia yang buruk. Dimana orang-orang yang menentang mereka lebih banyak dari pada yang menaatinya.”





