Berbahagialah ‘Al-Ghuraba’, Mereka Saling Cinta karena Allah
Ketiga, mereka adalah kaum yang beraneka ragam. Al Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak, ia berkata hadits ini sahih isnadnya, meski tidak dikeluarkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang bukan para nabi dan syuhada. Para nabi dan syuhadapun bergibthah pada mereka pada hari kiamat karena kedekatan mereka dengan Allah dan kedudukan mereka di sisi Allah. Kemudian seorang Arab Badui (yang ada di tempat Rasulullah berbicara) berlutut seraya berkata, “Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka dan uraikanlah keadaan mereka pada kami”. Rasulullah bersabda, “Mereka adalah sekelompok manusia yang beraneka ragam, yang terasing dari kabilahnya. Mereka berteman karena Allah dan saling mencintai karena Allah. Allah akan membuat mimbar-mimbar dari cahaya bagi mereka di hari kiamat. Orang orang merasa takut tapi mereka tidak takut. Mereka adalah kekasih Allah yang tidak memiliki rasa takut (pada selain Allah) dan mereka tidak bersedih.”
Keempat, mereka saling mencintai dengan “ruh” Allah. Yang dimaksud ruh Allah adalah syariat nabi Muhammad. Maksudnya perkara yang menjadi pengikat di antara mereka adalah ideologi (mabda) Islam, bukan yang lainnya. Mereka tidak diikat oleh ikatan yang lain, baik ikatan nasab, maupun ikatan kekerabatan, ikatan kemsalahatan atau ikatan kemanfaatan duniawi.
Dalam riwayat Al Hakim dari Ibnu Umar telah diceritakan sebelumnya dengan lafadz, “Mereka saling berteman di jalan Allah dan saling mencintai karena Allah.” Dalam riwayat Ahmad dari Hadist Abu Malik Al-Asy’ari dinyatakan dengan lafadz, “Tidak ada hubungan rahim serta kekerabatan diantara mereka, mereka saling mencintai karena Allah dan berkawan diantara mereka.”
Kelima, mereka memiliki kedudukan itu tanpa menjadi syuhada. Dijelaskan disini, para syuhada tergiur oleh mereka, tapi bukan berarti mereka lebih utama dari para nabi dan syuhada. Melainkan kedudukan itu hanyalah semata-mata menunjukkan keistimewaan mereka. Keistimewaan itu tidak menjadikan mereka lebih utama dari nabi dan syuhada.
Ath-Thabarani meriwayatkan dalam Al-Kabir dengan sanad yang baik dan perawinya terpercaya, menurut al Haitsami dari Abu Malik Asy’ari ia berkata, suatu ketika aku ada di dekat Nabi saw kemudian turunlah firman Allah Swt: “Hai orang orang yang beriman janganlah kamu menanyakan kepada nabimu hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkanmu.” (QS. Al-Maidah: 101).
Semoga Allah Swt merahmati orang-orang terasing dan melapangkan semua urusannya serta mengabulkan doa-doanya untuk mencapai rahmat Allah, Pengatur alam semesta. Wallahu a’lam bisawab.[]
Ummu Neysa, Muslimah Bangka Belitung.





