Habib Hanif: Dakwah Harus Jadi Tuntunan, Bukan Tontonan
Bogor (SI Online) – Di tengah maraknya majelis dan acara keagamaan yang kian semarak, muncul pertanyaan mendasar: mengapa kuantitas dakwah meningkat, tetapi kualitas umat terasa menurun?
Pertanyaan inilah yang menjadi sorotan utama dalam tausiyah Habib Muhammad Hanif Alatas di Majelis Al Ihya, Kota Bogor, Ahad (15/2/2026).
Dalam ceramahnya, Habib Hanif menegaskan bahwa dakwah sejatinya adalah tuntunan, bukan sekadar tontonan.
“Kalau kita perhatikan, majelis makin banyak, pesantren makin banyak, acara yang dibalut dakwah makin banyak. Tapi kok umat terasa makin jauh dari Allah? Salah satu penyebabnya, karena dakwah banyak yang sekadar tontonan, bukan tuntunan,” ujarnya tegas di hadapan jamaah.
Habib Hanif menyoroti fenomena sebagian panitia acara keagamaan yang lebih mengutamakan popularitas dibanding kualitas keilmuan dan akhlak penceramah.
“Kalau mau mengundang ustaz, alasannya karena viral. Alim tidak alim, saleh tidak saleh, istiqamah tidak istiqamah nomor sekian. Yang penting viral dulu,” katanya prihatin.
Ia menegaskan, jika seorang dai viral sekaligus alim dan saleh, tentu patut didukung. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika viralitas dijadikan satu-satunya tolok ukur.
Bahkan ia mengisahkan pengalaman mertuanya yaitu Habib Rizieq Syihab yang pernah diminta panitia untuk “ceramah yang lucu”.
“Kata Sayyidil Walid (Habib Rizieq) kalau mau lucu undang saja Srimulat (grup komedi) jangan saya,” cerita Habib Hanif.
Menurutnya, selingan humor dalam dakwah boleh saja, tetapi tidak boleh menjadi tujuan utama.
“Lucu itu sisipan agar jamaah segar, bukan tujuan. Dakwah bukan panggung hiburan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Habib Hanif mengutip pemikiran seorang ulama Al-Azhar, Syekh Muhammad Al-Ghazali, penulis kitab Ma’allah: Dirasatun fid Da’wati wad Du’at, yang membahas secara mendalam krisis orientasi dakwah di era modern.






