Habib Hanif: Dakwah Harus Jadi Tuntunan, Bukan Tontonan
Dan sifat yang kelima seorang dai adalah berani. “Orang mau dakwah itu butuh keberanian. Tidak bisa kalau tidak ada keberanian. Keberanian ini bukan soal lembut, keras. Lembut keras itu hanya cara, hanya retorika. Tapi keberanian bagaimana dia sampaikan hak itu hak, batil itu batil, apapun resikonya,” tutur Habib Hanif.
Selain itu, dalam tausiyahnya, Habib Hanif mengajak jamaah untuk meneladani para ulama (yang salah satunya almarhum KH Muhammad Husni Thamrin) yang menjaga zikir dan kedekatan dengan Allah dalam setiap perjuangan dakwahnya.
Ia mencontohkan bagaimana para guru dan kiai terdahulu mendidik murid-muridnya agar tidak pernah lepas dari zikir, salat malam, dan pembinaan ruhani sebelum berbicara tentang perjuangan sosial.
“Kalau sudah tersambung dengan Allah, maka ia akan korbankan jiwa, raga, dan segala yang ia miliki untuk berjuang di jalan Allah,” tuturnya.
Menurutnya, nasihat yang keluar dari lisan yang selalu berzikir akan lebih mudah menembus hati pendengar. Sebaliknya, nasihat dari hati yang kosong hanya akan lewat begitu saja.
Di akhir tausiyah, Habib Hanif berpesan agar zikir dan amalan yang diajarkan para guru tidak ditinggalkan. Ia mengajak seluruh jamaah—para asatidz, santri, dan masyarakat umum—untuk memperbaiki orientasi dakwah.
“Kalau kita ingin dakwah benar-benar jadi tuntunan, maka perbaiki dulu hubungan kita dengan Allah. Jangan sampai sibuk memperbaiki panggung, tapi lupa memperbaiki hati,” pesannya.
Selain ceramah, Habib Hanif hadir di Majelis Al Ihya dalam rangka menghadiri momen haul yang ke-4 atas wafatnya KH Muhammad Husni Thamrin. Seorang ulama kharismatik asal Bogor yang wafat empat tahun lalu. []
Baca juga: Haul ke-4 KH Husni Thamrin, Menjaga Api Dakwah yang Tak Pernah Padam






