SOSOK

Ulama Besar Syekh Hasan Hito Wafat

Dunia Islam baru saja kehilangan seorang ulama terbaik abad ini, al-‘Allamah as-Syekh Prof Dr Muhammad Hasan Hito. Ia adalah pakar ilmu fiqih dan ushul fiqh.

Ia meninggal dunia di Kuwait pada Selasa, 7 Ramadhan 1447 H/ 24 Februari 2026, pada usia 85 tahun. Ketika matahari terbenam di hari yang penuh berkah itu, ia mengakhiri perjalanan hidupnya yang dicurahkan secara total, tulus dan serius untuk melayani agama dan ilmu pengetahuan.

Syekh Hasan Hito adalah seorang ulama Suriah, lulusan al-Azhar, dan profesor di universitas. Ia termasuk ulama terkemuka di bidangnya dan pendiri Sekolah Tinggi Agama Islam Imam Syafi’i di Indonesia. Ia memiliki perhatian dan kontribusi amat besar dalam berbagai bidang ilmu keislaman, termasuk akidah, studi hadits, dan bahasa Arab. Ia juga seorang penyair dan penulis.

Ia meraih gelar doktornya di Universitas Al-Azhar, dan dikenal karena mendorong studi dan penguasaan ilmu-ilmu keislaman (yang mendalam) serta pernah mengecam keberanian mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang memadai. Ia menulis sebuah buku tentang hal ini yang berjudul “Yang Sok Tahu.”

Ia lahir di kawasan Rukn al-Din, Damaskus, ibu kota Suriah, pada tanggal 11 Dzulqa’dah 1362 H (bertepatan dengan 10 Oktober 1943). Ia berasal dari keluarga Hito, bagian dari suku Sheikhani—suku Arab yang hidup di antara orang Kurdi selama enam abad. Nasabnya dapat ditelusuri sampai ke Syekh Abdul Qadir al-Jilani, yang merupakan keturunan dari Sayyidina Hasan ibn Ali ibn Abi Talib (semoga Allah meridhainya).

Keluarga Hito terkenal karena dedikasinya pada studi keagamaan. Kakek dari pihak ayahnya adalah seorang komandan militer berpangkat tinggi di zaman Turki Usmani (Ottoman). Kakeknya juga seorang ahli astronomi dan anggota terkemuka keluarga Agha. Ayahnya menjadi yatim piatu di usia muda; ibunya meninggal ketika ia berusia sembilan bulan, dan ayahnya wafat ketika ia berusia enam tahun. Bibinya mengadopsinya, merawatnya dan mengurus keuangannya, tetapi tidak ikut mengawasi pendidikannya.

Meskipun buta huruf, orang tuanya sangat memperhatikan pendidikan. Ia bersekolah di sekolah dasar di Sekolah Utsman ibn Affan di Damaskus, yang kepala sekolahnya bernama Mahmoud Mahdi al-Istanbuli, seorang Syekh Salafi terkenal yang mengikuti pendekatan keagamaan dan membawa murid-muridnya ke masjid untuk salat Zuhur dan Ashar.

Kemudian ia melanjutkan pendidikan di sekolah menengah di Institut Islam Arab, salah satu sekolah paling terkenal di Damaskus, yang didirikan oleh Imam Mustafa as-Siba’i (semoga Allah merahmatinya). Institut tersebut sangat memperhatikan keunggulan para muridnya, membawa mereka ke institut pada sore hari untuk membaca dan menyelesaikan tugas hingga malam hari.

Ia bersekolah di SMA Jawdat al-Hashimi, tempat ia lulus dengan predikat istimewa. Ia bermaksud pergi ke Jerman untuk belajar roket dan satelit, karena kecenderungan awalnya adalah matematika dan sains. Namun, ketika ia berada di kelas 11, minat keilmuannya bergeser ke ilmu-ilmu keislaman. Ia memberi tahu keluarganya bahwa ia ingin kuliah di Universitas Al-Azhar, tetapi ayahnya menolak dengan tegas, karena khawatir ia akan “hidup dari sedekah,” seperti yang dipikirkannya karena ketidaktahuannya tentang keadaan para ulama. Namun, ia bersikeras untuk kuliah di Al-Azhar, dan berkata kepada keluarganya, “Jika aku hanya punya satu hari lagi untuk hidup, maka akan aku habiskan (yakni mau meninggal) di Al-Azhar.” Ayahnya tetap menolak, sehingga ia pun mendaftar di Fakultas Syariah di Universitas Damaskus.

Ketika ayahnya mengetahui hal ini, ia menjadi marah dan memaksanya untuk mengundurkan diri. Ia mengundurkan diri dan mendaftar di Departemen Geologi di Fakultas Seni, meskipun ia sama sekali tidak tertarik pada mata kuliah tersebut. Kemudian ia memberi tahu keluarganya bahwa ia ingin pergi ke Jerman, dan ayahnya setuju dan senang.

Namun, keinginannya untuk belajar di Al-Azhar lebih kuat daripada desakan dan penolakan ayahnya. Tanpa sepengetahuan ayahnya, ia mendapatkan paspor untuk Kairo dan melakukan perjalanan pertama ke Yordania, dengan alasan akan mengikuti perjalanan universitas. Ini terjadi pada 1964.

Namun hatinya tetap gelisah. Beberapa hari sebelum berangkat ke Yordania, ia mendatangi rumah Syekh Mulla Ramadhan al-Buthi dan bertanya, “Bolehkah aku pergi menuntut ilmu agama tanpa izin orang tua?” Syekh Al-Buthi menjawab, “Boleh.”

1 2 3 4 5Laman berikutnya
Back to top button