Kekuatan Ruhiyah
Menurut Taqiyuddin an Nabhani ada tiga kekuatan dalam diri manusia. Pertama kekuatan materi. Kekuatan semangat. Ketiga kekuatan ruhiyah.
Kekuatan materi adalah kekuatan manusia yang mengandalkan hal-hal fisik. Senjata militer, otot tubuh, uang, tanah dan sebagainya. Kekuatan ini sebenarnya kekuatan yang paling lemah. Manusia yang mengandalkan kekuatan ini lebih mudah frustasi. Kita bisa melihat tentara-tentara Israel yang dikirim untuk mencaplok tanah Palestina, ternyat ribuan yang stress. Mereka tidak tahu motivasi apa dalam peperangan itu.
Kekuatan semangat. Semangat ini dimiliki oleh orang Islam maupun kafir. Para pelajar yang mempunyai motivasi sukses yang kuat, ia akan berhasil dalam studinya. Tentara-tentara Vietnam yang melawan militer Amerika, mempunyai semangat yang lebih kuat daripada tentara Amerika.
Ketiga kekuatan ruhiyah. Kekuatan ini adalah kekuatan yang paling besar. Karena ia menghubungan hamba Allah dengan kekuatan Allah yang tidak ada batasnya. Allah yang mempunyai sifat al Jabbar, al Qahhar, al Malik, As Sami’, al Alim dan seterusnya.
Maka jangan heran Hamas yang bertempur dengan tentara Israel, mempunyai semboyan Hidup Mulia atau Mati Syahid. Pasukan-pasukan Hamas menyambut kematian dengan tersenyum. Mereka yakin bahwa bila menang, maka kemenangan itu akan dinikmati kaum Muslimin dengan bahagia. Kemenangan itu akan menambah kepercayaan diri Muslim makin bertambah. Sedangkan bila pasukan Hamas kalah, mereka pun bahagia. Karena mereka yakin bahwa akan membalasnya dengan kebahagiaan hidup kembali di al Jannah.
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
“Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang terbunuh di jalan Allah, bahwa mereka mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. al Baqarah 154)
وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا ۗ بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَۙ فَرِحِيْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۙ وَيَسْتَبْشِرُوْنَ بِالَّذِيْنَ لَمْ يَلْحَقُوْا بِهِمْ مِّنْ خَلْفِهِمْ ۙ اَلَّا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۘ
“Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. “Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Ali Imran 169-170)
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah; sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. at Taubah 111)
وَلَئِن قُتِلْتُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ مُتُّمْ لَمَغْفِرَةٌ مِّنَ اللَّهِ وَرَحْمَةٌ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Jika kamu terbunuh di jalan Allah atau mati, maka ampunan dan rahmat dari Allah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Ali Imran 157)






